Kota Serang
Trending

Selalu Rugi, Petani di Kota Serang Minta Kuota Pupuk Subsidi Ditambah

SERANG, BANTEN RAYA – Para petani di Kota Serang meminta kuota pupuk subsidi ditambah. Pasalnya gara-gara pupuknya dibatasi, hasil produksinya pun menjadi berkurang.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Andalan Lingkungan Simangu, Kelurahan Pager Agung, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Masri mengatakan, sejak Januari 2021 kuota pupuk bersubsidi untuk para petani mulai menggunakan kartu tani. Sehingga dengan menggunakan kartu tani itu setiap petani hanya mendapatkan 75 kilogram (kg) dengan harga Rp 2.250 perkilogram. Sementara kebutuhan petani rata-rata 200 kg pupuk urea untuk satu hektare sawah. Sedangkan sisanya terpaksa dirinya harus membeli pupuk non subsidi dengan harga Rp 7.000 per kg.

“Jadi gak sinkron antara kebutuhan petani dengan kemampuan pemerintah mensubsidi pupuk. Kalau petani kan jarang yang punya modal banyak,” ujar Masri, dihubungi Banten Raya, via ponselnya, Minggu (21/3/21).

Ia mengungkapkan, keberhasilan dalam bercocok tanam ada tiga hal yang wajib dipenuhi. Pertama benih unggul, pasokan pupuk cukup, dan pasokan air cukup. Jika kebutuhan tiga hal tersebut dapat terpenuhi, maka dapat dipastikan hasil produksinya pun bakal melimpah dan berkualitas. Jika sebelumnya mendapat 7 ton sekali panen per satu hektare, namun pada masa tanam pertama tahun ini hanya mendapat 5,5 ton lebih gabah.

Ditambah lagi sekarang harga gabah lagi anjlok Rp 3.500 per kg. Jika dikalikan dengan harga gabah Rp 3.500 per kg, maka dirinya hanya mendapatkan Rp 16.500.000. Sementara biaya operasional bertani satu hektare sawah dari nol atau dari mulai olah tanah sampai pasca panen itu mencapai Rp 15 juta.

“Bagaimana petani gak ngeluh, boro-boro dapat untung ini mah, rugi,” tuturnya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap pemerintah daerah dapat memfasilitasi permintaan tambahan pupuk subsidi tersebut.

“Ya keinginan kami ditambahlah, kalau bisa ya 200 kg sesuai kebutuhan petani. Apalagi bulan Mei nanti mau menghadapi masa tanam kedua atau istilahnya masa kemarau. Kan butuh banyak pupuk,” terang dia. (harir)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp