DaerahKota Serang
Trending

Serang Disebut Seperti Negeri Taliban, Kok Bisa?

SERANG, BANTEN RAYA – Kota Serang mendadak menjadi perbincangan publik di dunia maya setelah Kanal Youtube CokroTV membahas Ibu Kota Provinsi Banten ini. Pembahasan disiarkan dengan judul ” Eko Kuntadhi: Kok Serang, Kayak Negeri Taliban?”. 

Jika Dilihat hingga pukul 11.00 hari ini, unggahan itu sudah ditonton 311 ribu kali. 

Apa itu Negeri Taliban? BBC News Indonesia dalam artikel berjudul “Siapakah Taliban”, menjelaskan bahwa Taliban berdiri awal 1990-an di wilayah Pakistan Utara. Gerakan ini awalnya didominasi oleh orang-orang Pashtun. Janji Taliban di wilayah-wilayah kediaman warga Pashtun, yang tersebar di Pakistan dan Afghanistan, adalah memulihkan perdamaian dan keamanan berdasarkan Syariah Islam jika mereka berkuasa. 

Di kedua negara itu mereka memberlakukan atau mendukung hukum Islam. Seperti eksekusi di depan umum untuk kasus pembunuhan dan perzinahan serta potong tangan bagi para pencuri. 

Pegiat Media Sosial Eko Kuntadhi dalam Kanal CokroTV itu rupanya mengkritisi aturan jam buka dan jam tutup bagi restoran, tempat makan, dan usaha sejenisnya selama Ramadan. Aturan itu dasarnya adalah Perda Nomor 2 Tahun 2010 yang ia nilai merupakan aturan yang diskriminatif. Pengaturan urusan puasa oleh Pemkot Serang ini yang dipersoalkan Eko. 

Eko berpendapat, pembuatan aturan itu dibuat pada masa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memimpin Indonesia. Di mana saat itu Indonesia memang diarahkan menjadi negara Taliban. 

“Wajar sih perda itu dibuat di zaman SBY-lah kira-kira. Zaman ketika Indonesia hendak digiring menjadi negeri Taliban,” kata Eko. 

Eko menilai, saat pembuatan perda di mata penguasa masyarakat Kota Serang dianggap memiliki iman yang tipis. Sehingga perlu dilindungi ketika mereka puasa Ramadan agar tidak batal puasa. Bentuk perlindungannya dengan memberlakukan penutupan rumah makan selama Ramadan. 

“Artinya warga Serang yang selama ini mendapat penghasilan dari berjualan makanan harus gigit jari akibat ada peraturan tersebut,” ujarnya. 

Eko menilai, perda ini sangat diskriminatif terhadap kaum perempuan. Pada kasus di Kota Serang karena yang berjualan makanan mayoritas merupakan kaum perempuan. Dengan demikian perda ini juga dianggap diskriminatif terhadap kaum perempuan. 

“Di mata saya ini adalah aturan yang sangat diskriminatif dan lucu,” katanya. 

Eko juga mempersoalkan mengapa hanya rumah makan dan restoran yang menyediakan makanan jadi yang harus tutup selama bulan Ramadan. Padahal toko-toko lain seperti minimarket dan supermarket yang juga menjual makanan dan minuman tidak diminta tutup selama Ramadan. 

“Apakah dengan perda semacam ini masyarakat Serang akan puasa semua? Enggak juga,” katanya. (tohir).

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp