DaerahKota SerangPendidikan
Trending

SMPN 1 Kota Serang Sediakan Laptop untuk Siswa “Bermasalah”

SERANG, BANTEN RAYA- SMPN 1 Kota Serang pada masa pandemi korona ini menyediakan fasilitas laptop untuk siswa yang mengalami keterbatasan dalam proses pembelajaran daring. Sekolah menyediakan akses internet bahkan pendampingan oleh para guru, tetapi dengan syarat siswa mau mengikuti protokol kesehatan.

Wakasek Bidang Humas SMPN 1 Kota Serang Adek Candra mengatakan, guna membantu siswa yang terkendala fasilitas untuk melakukan kegiatan belajar daring sekolah menyediakan laptop. Total ada 400 laptop yang dimiliki sekolah tetapi yang digunakan untuk belajar daring hanya sekitar 20 laptop untuk 20 siswa. 

Mayoritas siswa yang dibantu dalam proses belajar daring adalah siswa Kelas VII. Dari 400 jumlah siswa kelas VII, hanya ada sekitar 17-20 siswa yang diberi treatment khusus pembelajaran daring karena sejumlah sebab. Ada yang karena tidak memiliki fasilitas pendukung tapi ada juga yang karena malas ketika belajar sendiri di rumah. Padahal ia difasilitasi secara lengkap oleh orang tua dengan laptop atau ponsel dan kuota yang cukup.

“Yang tidak punya kuota difasilitasi oleh sekolah tidak lebih dari 18 orang dan kadang-kadang tidak nyampe hanya 15 sampai 17 siswa,” katanya.

Adek mengatakan, siswa yang bermasalah dalam pembelajaran daring dari jumlah seluruh siswa hanya mencapai 25-29 siswa karena itu sekolah hanya menggunakan satu laboratorium dan satu white board interaktif guna mendukung proses pembelajaran siswa. Para siswa akan belajar dalam satu hari dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 11.30 WIB dengan dua mata pelajaran.

Bagi siswa yang bermasalah belajar, sekolah biasanya akan memanggil orang tua dan anaknya untuk mendiskusikan masalah yang dihadapi anak. Tapi bila cara ini tidak bisa dilakukan, maka guru akan melakukan kunjungan ke rumah (home visit) guna mengorek keterangan mengapa si anak tidak pernah mengerjakan soal sama sekali.

“Home visit dilakukan baik oleh guru BK, wali kelas, guru mata pelajaran, maupun wakasek,” katanya.

Dari kunjungan itu kemudian akan diketahui mengapa seorang siswa tidak mengerjakan soal. Beberapa kasus yang ditemui misalkan hal itu terjadi lantaran siswa hanya membuka proses pembelajaran e-learning setelah itu lantas bermain game atau mengakses media sosial. Hal ini juga menyiratkan tidak adanya pengawasan dari orang tua karena mereka sibuk bekerja.

“Dengan home visit kami mengorek masalah yang dialami siswa, terutama yang masalah belajarnya kronis, misalkan sama sekali tidak mengerjakan tugas,” ujar Adek.

Wakasek Bidang Sarana Prasarana SMPN 1 Kota Serang Agus Sabaraharja mengatakan, pembelajaran e-learning yang diciptakan SMPN 1 Kota Serang selain mampu mendeteksi siswa yang benar-benar mengikuti pelajaran dan mengerjakan soal yang diberikan juga mampu mendeteksi siswa yang tidak melakukan itu. Bahkan dengan teknologi e learning guru bisa melihat berapa lama siswa belajar, apakah berjam-jam atau hanya satu dua menit.

“Kita punya tim informasi teknologi sehingga semua kegiatan siswa bisa diketahui dengan e-learning. Siswa yang cuma buka tapi tidak mengerjakan juga ketahuan,” katanya.

Bagi siswa yang membuka pembelajaran hanya beberapa menit dan tidak mengerjakan soal dapat terdeteksi sebagai siswa yang butuh treatment khusus. Para siswa seperti ini biasanya yang didorong agar ikut dalam proses belajar daring di sekolah dengan memanfaatkan laptop dan jaringan internet sekolah. (tohir/rahmat) 

 

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp