DaerahKesehatanKota Serang
Trending

Tak Perlu Khawatir, Fatwa MUI Tes Swab Tidak Batalkan Puasa

SERANG, BANTEN RAYA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa mengenai tes usap atau swab bagi orang yang berpuasa. Dalam fatwanya, MUI berpendapat bahwa tindakkan tersebut bagi keperluan penanganan Covid-19 tidak membatalkan puasa.

Sekretaris MUI Kota Serang Amas Tadjuddin mengatakan, fatwa mengenai tes usap itu tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 23 Tahun 2021 tentang Hukum Tes untuk Deteksi Covid-19 Saat Berpuasa. Dalam fatwa itu, MUI memutuskan bahwa yang dimaksud dengan tes usap apada fatwa ini adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus.  

Cara deteksinya dengan mengambil sampel dahak lendir atau cairan dari nasofaring, bagian pada tenggorokan bagian atas yang terletak di belakang hidung dan di balik langit-langit rongga mulut. Kemudian juga orofaring atau bagian antara mulut dan tenggorokan.

“Ketentuan hukum pelaksanaan tes swab sebagaimana dalam ketentuan umum itu tidak membatalkan puasa. Sehingga, umat Islam yang sedang berpuasa diperbolehkan melakukan tes swab untuk mendeteksi Covid-19,” kata Amas mengutip ketentuan hukum Fatwa MUI tersebut, Minggu (11/4/2021).

Ia menjelaskan, fatwa MUI tersebut ditetapkan di Jakarta pada 7 April 2021 Masehi/ 24 Sya’ban 1442 Hijriah. Fatwa ditandatangani Ketua Komisi Fatwa MUI yaitu Hasanuddin AF, Sekretaris Mihtahul Huda, serta Ketua Umum MUI Miftachul Akhyar dan Sekretaris Umum MUI Amirsyah Tambunan.

Amas mengungkapkan, sesuai dengan isi fatwa, bahwa salah satu dasar fatwa ini adalah adanya firman Allah SWT dalam Alquran tentang kewajiban berpuasa Ramadan, namun disertai keringanan (rukhsah) bagi yang sakit atau bepergian pada surah Al Baqarah ayat 183-184. Juga adanya ayat yang menerangkan larangan menjatuhkan diri pada kebinasaan pada surah Al Baqarah ayat 159.

Dasar lain fatwa ini adalah hadits Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa segala penyakit ada obatnya. Juga penggunaan celak atau batu antimonium dengan warna permukaan seperti logam) saat puasa tidak membatalkan puasa Rasulullah SAW.

Ada juga dasar dari kaidah Fiqih yang menyatakan, “bahaya harus dihilangkan”, “bahaya tidak boleh dihilangkan dengan kemudharatan”, dan “bahaya dicegah dengan sedapat mungkin”.  

MUI juga memperhatikan sejumlah pendapat ulama. Misalkan pendapat Al Qasthalani dalam kitab Irsyadu Al-Sari ketika menafsirkan surah An-Nisa ayat 102.

“Dari sinilah dipahami bahwa berobat dengan obat yang menjaga diri dari wabah penyakit serta menghindari dari duduk-duduk di bawah dinding yang miring adalah wajib,” kata Amas mengutip fatwa. (tohir)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp