Kota Serang
Trending

Tanggapan BMKG Soal Pawang Bisa Memindahkan Hujan: Tidak Terjangkau dengan Orang Awam

SERANG – Menurut Koordinator Data dan Informasi pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Serang Tarjono, BMKG membuat prakiraan atau prediksi cuaca berdasarkan pengamatan selama 24 jam. Data tersebut kemudian dianalisa. “Artinya, kalau kami berbasis keilmuan atau sains. Sedangkan pawang hujan, sepertinya berbau klenik,” ujarnya.

Kata dia, dalam keilmuan yang digunakan BMKG dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), ada yang namanya rekayasa cuaca. Misalnya, sudah lama tidak hujan, lalu dibuat rekayasa cuaca dengan menebarkan pupuk urea atau garam di sekumpulan awan yang konventif. “Nanti awan matang dan turun hujan,” terangnya.

Selain dapat direkayasa cuaca untuk turun hujan, hal itu juga dapat memprediksi hujan itu akan turun dimana. Misalnya, untuk menurunkan hujan di Serang, maka BKMG dan BPPT akan memantau arah angin dan awan.

“Nanti ditebar pupuk urea atau garam di Jakarta, kemudian awam konventif akan terbawa angin dan matang di Serang, sehingga hujan akan turun di Serang,” papar Tarjono.

Ia mengatakan, apabila tanpa konservasi atau pemantauan sebelumnya, hal itu bisa saja dilakukan tapi lokasi turun hujan bisa berbeda. Namun, untuk menangkal hujan atau membuyarkan awan, secara keilmuan BMKG belum menemukan caranya. Misalnya saja di atas wilayah Serang ada awan yang terkumpul, maka alat peniup untuk memindahkan awan yang akan digunakan harus seperti apa.

“Awan konventif bisa dibuyarkan agar tidak terjadi hujan. Tetapi pertanyaannya, alat yang digunakan sebesar apa yang bisa meniup awan itu agar bubar,” terang Tarjono.

Secara teori, seluruh air yang ada di bumi menguap kemudian menjadi kondensasi lalu mengumpul kemudian menjadi awan hujan. Ketika sudah jenuh kadar uap air maka akan tumpah. “Tapi kalau berdiameter semeter-semeter tidak akan hujan,” ujarnya.

Tarjono menegaskan bahwa, fenomena pawang hujan sesungguhnya bukan menolak hujan, akan tetapi menggeser hujan. Tapi secara sains, adakah alat untuk menggeser awan. “Tidak terjangkau dengan orang awam,” terang Tarjono. (harir/nna/rahmat)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp