DaerahEkonomi & BisnisLebak
Trending

Harga Kedelai Masih Mahal, Pengusaha Tahu dan Tempe di Lebak Mulai Gulung Tikar

LEBAK, BANTEN RAYA – Pengusaha tahu dan tempe di Kabupaten Lebak mengeluhkan dengan masih mahalnya harga kacang kedelai. Akibatnya, mereka terus mengalami kerugian dan bahkan sudah mulai ada yang gulung tikar alias bangkrut.

Salah seorang pembuat tahu tempe di Muhara Ciujung Barat, Kecamatan Rangkasbitung Aning mengungkapkan, di saat harga kacang kedelai masih normal Rp7.200 per kilogram, usahanya maju dan belum pernah mengalami kendala. Namun sejak satu tahun belakangan ini, harga kedelai merangkak naik dan bertahan hingga Rp12 ribu per kilogram. Mahalnya kedelai membuat pelaku industri kecil tidak bisa produksi.

“Saya biasanya butuh 50 kilogram per hari untuk membuat tahu dan tempe. Karena harga kedelai naik, keuntungannya sekali produksi Rp20 ribu. Padahal saya harus membeli kayu bakar, bayar listrik untuk pendukung proses produksi dan karyawan. Dihitung-hitung rugi dan lebih baik tutup,” ujarnya, kemarin.

Pengusaha tahu tempe lainnya di Kampung Salahur, Kecamatan Rangkasbitung Muhamad mengatakan, akibat harga kedelai masih tinggi, maka dua rekannya sesama pelaku industri tahu tempe sudah dua pekan belakangan ini memilih tutup usaha. Muhamad sendiri hingga kini masih produksi, karena sebelumnya telah menjual dua unit sepeda motor sebagai modal usaha.

“Produksi tahu tempe di rumah sayapun sempat terhenti karena kedelai mahal. Biaya produksinya tidak seimbang dengan keuntungan. Agar saya bisa tetap produksi lagi, terpaksa saja jual motor untuk membeli kacang kedelai,” kata Muhamad.

BACA JUGA: Harga Kedelai Melonjak, Ukuran Tahu dan Tempe Cilegon Menyusut

Baik Aning maupun Muhamad berharap agar pemerintah bisa membantu pengusaha kecil dengan menurunkan harga kedelai di bawah Rp 10 ribu.

“Bila harga kacang kedelai masih tinggi, bukan tidak mungkin, pelaku industri kecil tahu tempe yang hingga kini masih bertahan bisa terancam gulung tikar juga,” kata Muhamad

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lebak Dedi Rahmat mengatakan, tidak bisa melakukan intervensi terhadap harga kedelai.

“Kalau harga beras, gula maupun daging kami masih bisa mengendalikan melalui operasi pasar murah dengan pihak Bulog. Namun untuk kedelai tidak bisa dilakukan daerah dengan pasar murah. Tapi masalah ini akan kami sampaikan ke Ibu Bupati agar ada solusinya,” kata Dedi. (hudaya/muhaemin)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp