DaerahKesehatanLebakWisata & Kuliner
Trending

Meski Masih Pandemi, Seba Baduy Dipastikan Tetap Digelar

SERANG, BANTEN RAYA- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak memastikan perayaan Seba Baduy yang menjadi agenda rutin tahunan akan tetap dilaksanakan pada tahun ini. 

Kepastian tersebut disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak Wawan Sukmara, saat menjadi pembicara dalam Seminar Sejarah Banten yang dilaksanakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten, kemarin.

Dalam paparannya Wawan menyampaikan, Seba Baduy di masa pandemi Covid-19 tepat akan dilaksanakan dengan sejumlah catatan. Diantaranya adalah Pemkab Lebak akan memfasilitasi dan menerima rombongan Seba warga masyarakat Baduy.

“Tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan. Hal tersebut sama seperti perayaan Seba Baduy tahun kemarin yang tetap dilaksanakan dengan jumlah terbatas dan menggunakan protokol kesehatan,” ujarnya.

Untuk menyukseskan kegiatan tahunan tersebut, lanjut Wawan, pihaknya menjalin komunikasi aktif dengan para Jaro dalam untuk membahas perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dalam kegiatan Seba Baduy tahun ini.

Ia mengaku, Pemkab Lebak tetap memberikan dukungan terkait dengan perayaan Seba Baduy, salah satunya dengan memberikan dukungan publikasi dan akomodasi Seba masyarakat Baduy.

“Pemkab Lebak pun berperan dalam memberikan perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan terhadap tradisi Seba Baduy,” ungkapnya.

Di lokasi yang sama, Pemerhati Masyarakat Adat Baduy Uday Suhada mengatakan, tak lama lagi Masyarakat Adat Kanekes atau Baduy akan segera memiliki agenda akhir tahun dalam perhitungan waktu mereka melalui Kolenjer. 

Agenda rutin itu adalah upacara adat Seba. Ritual ini harus dilaksanakan apapun kondisinya. Tahun lalu saat pandemi Covid-19 mulai merebak misalnya, mereka tetap melaksanakannya dalam keterbatasan. Pesertanya hanya selusin, menggunakan masker dan menjalankan protokol kesehatan. Penerimaan masyarakat adat pun bukan oleh kepala daerah.

“Hingga kini ada dua pandangan yang berbeda dalam memaknai Seba. Pertama, pandangan dari luar yang menganggap upacara itu adalah sebagai bentuk ketundukan terhadap penguasa. Kedua, versi orang Kanekes sendiri. Dimana Seba adalah rangkaian ritual dari tugas hidup mereka. Seba adalah ritual untuk menjaga ikatan silaturahmi antara masyarakat Adat Kanekes dengan pemerintah,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Uday mengajak kepada peserta untuk mengingat kembali, bahwa tugas hidup Masyarakat baduy yang terkenal dengan prinsip hidup “lojor teu beunang dipotong, pondok teu beunang disambung” ini adalah tapa di Wiwitan. Kemudian “ngabaratapeun ngabaratanghikeun titipan ti Adam Tunggal” untuk menjaga harmoni, hidup antara manusia dengan alam. 

“Mereka mendapatkan tugas berat untuk bertapa, mengurus yang batin dan kasat mata untuk keselamatan umat manusia serta alam dan segala isinya,” imbuhnya. (satibi)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp