DaerahLebakPendidikan
Trending

Terlalu Lama Belajar Daring, 300 Siswa SMP di Lebak DO

LEBAK, BANTEN RAYA – Sedikitnya 300 siswa SMP di Kabupaten Lebak tercatat berhenti dari sekolahnya atau drop out (DO). Fenomena itu terjadi selama pandemi Covid-19 dimana ada larangan belajar tatap muka dan harus belajar menggunakan sistem dalam jaringan (daring).

Berdasarkan data yang diterima Banten Raya dari Dinas Pendidikan (Dindik) Lebak, ada 300 siswa SMP yang sudah berhenti sekolah selama pandemi terjadi. Sedangkan 6.000 lainnya hingga kini belum ada kejelasan karena saat belajar melalui sistem daring maupun luar jaringan (luring), ribuan siswa tersebut tidak aktif.

Kepala Dindik Kabupaten Lebak Wawan Ruswandi membenarkan, ada 300 siswa SMP tercatat telah berhenti sekolah.

“Kami prihatin ada banyak siswa yang berhenti. Namun masih ada 6.000 siswa yang tercatat dan diberita materi belajar atau tugas dalam proses pembelajaran daring maupun luring. Namun pelajar tidak mengikuti dengan baik. Saat dicek kerumahnya masing-masing oleh guru, siswa jarang berada di rumah,” ujar Wawan, kemarin.

Namun demikian, pihaknya bersyukur karena belajar tatap muka di Kabupaten Lebak sudah mulai dilakukan. Kekhawatiran akan semakin banyaknya siswa yang DO bisa segera dicegah.

“Bila daring masih terus dilakukan ataupun diperpanjang, kami khawatir jumlah siswa yang putus sekolah akan semakin meningkat jumlahnya,” katanya.

Masih kata Wawan, dari 773 SD negeri dan swasta di Lebak, sebanyak 626 SD di antaranya sudah belajar tatap muka. Sedangkan untuk SMP negeri dan swasta sebanyak 217 sekolah, 84 SMP di antaranya sudah melaksanakan belajar tatap muka.

BACA JUGA: WH Pastikan Pembangunan 13 SMA Baru di Lebak Digarap Tahun Ini

“SMP yang belum melaksanakan belajar tatap muka rata-rata di Rangkasbitung, karena para gurunya belum divaksin. Agar bisa melaksanakan belajar tatap muka, kami sudah melakukan kordinasi dengan pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Lebak, agar para guru SMP di Kecamatan Rangkasbitung bisa diprioritaskan pemberian vaksinnya,” terangnya.

Pengamat pendikikan Kabupaten Lebak Dase Erwin Juansyah mengatakan, belajar daring dengan jangka waktu yang cukup lama berpotensi terhadap siswa untuk memutuskan berhenti sekolah. Namun karena Lebak saat ini sudah ditetapkan sebagai zona kuning, belajar tatap muka bisa dilaksanakan kembali dan cara ini bisa meminimalisasi siswa putus sekolah.

“Kalau saja belajar sistem daring terus diberlakukan, maka siswa putus sekolah kemungkinan bertambah,” kata Erwin. (hudaya/muhaemin)

Related Articles

Back to top button