DaerahPemprov Banten
Trending

Museum Negeri Banten Belum Representasikan Kebudayaan Banten

SERANG, BANTEN RAYA- Provinsi Banten perlu mendirikan sebuah museum yang merepresentasikan sejarah dan kebudayaan Banten sebagai identitas Provinsi Banten di mata nasional bahkan dunia. Hal tersebut terungkap dalam Forum Diskusi Radar Banten Group (FDR) yang digelar di studio 1 Banten TV, Senin (15/3/2021).

Hadir sebagai narasumber diskusi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten Tabrani, dan Peneliti Banten Heritage Doktor Moh Ali Fadillah. 

Diketahui, Museum Negeri Banten telah ada di Provinsi Banten sejak tahun 2013 dengan menempati Balai Budaya di sekitar KP3B. Namun sejak tahun 2015, Museum Negeri Banten ini menempati eks Gedung Residen Banten dan Pendopo Lama. 

Peresmiannya pun dilakukan langsung oleh Gubernur Banten saat itu yakni Rano Karno tepat pada 29 Oktober 2015.

 Kehadiran Museum Negeri Banten di pusat kota yakni di Eks Residen Banten dinilai oleh sejumlah pihak sebagai upaya untuk menjawab keraguan masyarakat Banten yang sejak lama mengidamkan dan memimpikan lahirnya sebuah museum yang merepresentasikan kebudayaan Banten.

Kepala Dindikbud Provinsi Banten Tabrani mengatakan, meski dirinya baru lima bulan menjabat Kepala Dindikbud, namun ia sudah berniat untuk mengusulkan pendirian gedung Museum Negeri Banten secara khusus yang lebih representatif. Kedepan pihaknya berencana memasukan pembangunan museum ini dalam RPJMD, Renstra dan kemudian Renja Dindikbud Banten.

“Ya nanti kita usulkan, kini diniatkan dulu, ke depan semoga bisa terwujud museum yang lebih representatif dan bisa menunjukkan identitas Banten itu sendiri, tapi itu butuh waktu,” katanya.

Dijelaskan Tabrani, Pemprov Banten sangat serius dalam menangani Museum Banten. Ini dibuktikan dengan hadirnya tiga peraturan yang mengatur keberadaan museum tersebut. Yaitu ada Pergub 12 tahun 2012 tentang UPTD Balai Budaya Banten, kemudian diperbarahui Pergub 86 tahun 2016 tentang UPT Museum, dan terakhir Pergub 19 tahun 2019 tentang taman budaya dan museum.

“Artinya pergub dari waktu ada, menunjukkan kesungguhan bahwa Pemrpov Banten perlu ada museum dan pengelolaan. Apalagi, saat ini peneglolaan museum dikelola oleh UPT sendiri,” terangnya.

Dijelaskan Tabrani, saat ini di Museum Banten yang sekarang menempati gedung sebelah kiri eks Residen, ada sekitar 75 jenis benda atau koleksi budaya di dalamnya. Museum Negeri Banten juga menyajikan pengetahuan sejarah Banten di masa lalu hingga saat ini. Pihaknya, mengajak masyarakat Banten khususnya untuk mempelajari sejarah Banten di museum tersebut, karena berbagai sejarah dan kebudayaan Banten bisa nikmati di sana.

“Kini tak kurang dari 75 jenis benda cagar budaya bisa dilihat di museum tersebut. Selain itu, ada tayangan serta pengetahuan tentang Banten masa lalu dan Banten masa kini bisa diperoleh di museum ini,” katanya.

Disampaikan Tabrani, fungsi museum ini dapat terbagi dua bagian yakni dalam bentuk pengetahuan. Jika dalam bentuk pengetahuan ini lebih spesifik bagi kalangan pelajar, mahasiswa, dan komunitas. Sedangkan fungsi kedua adalah untuk kunjungan wisata. Karena selain objek wisata yang ada di Banten, bisa mengunjungi Museum Negeri Banten sebagai objek sejarah. 

Namun sejak Pandemi Covid-19 melanda tanah air termasuk Banten, museum ditutup untuk umum. Hal itu tidak menyurutkan keinginan masyarakat untuk tetap bisa mempelajari museum melalui media sosial yang dimiliki museum negeri Banten.

Tabrani menyebutkan, sebelum pandemi korona, kunjungan wisatawan baik pelajar, mahasiswa dan umum setiap bulannya mencapai 2.000 pengunjung. Angka tersebut diakuinya amat baik, angka itu juga menyimpulkan bahwa rasa keingintahuan tentang Banten dan sejarahnya dinilai tinggi.

Sementara, selaku peneliti dari Banten Heritage yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banten tahun 2015, Muhammad Ali Fadillah menyampaikan konsep didirikannya Museum yang menempati Eks Gedung residen Banten karena saat itu belum adanya gedung yang lebih representatif. Adapun lahirnya museum karena bentuk kerinduan para seniman, sejarahwan dan budayawan untuk menuangkan ide serta gagasan dan karya yang bisa dinikmati masyarakat, dan museum adalah salah satu wadahnya.

“Para seniman dan budayawan ingin punya tempat dan gedung khusus yang bisa merepesentasikan budaya Banten. Terus tercetuslah Museum Negeri Banten yang sebenarnya sudah mulai tahap penelitian sejak tahun 2006, namun baru tereralisasi di tahun 2015,” jelas Dosen Sejarah dan Kebudayaan Untirta ini.

Ali juga menyebut, keberadaan Museum Negeri Banten cukup relevan dengan kebutuhan saat ini. Namun perlu dilakukan pembenahan yang matang, karena untuk mendirikan sebuah museum diperlukan waktu yang panjang dan penelitian yang lebih mendalam. Karena menurutnya, museum yang ada saat ini masih terdapat kekurangan. Untuk itu, sebagai peneliti, Ali berharap ke depan akan ada gedung khusus untuk museum Banten yang bisa didirikan di pusat kota.

Di akhir diskusi, Tabrani mengajak seluruh masyarakat Banten untuk bisa memahami sejarah dan budaya Banten dengan berknjung ke Museum Negeri Banten yang menempati sekitaran Gedung kes Residen atau Pendopo Lama Gubernur. Namun karena tengah pandemi, sementara museum ini ditutup untuk umum. Museum akan kembali dibuka mengikuti kebijakan Gubernur Banten dan landainya penyebaran Covid-19. (lik/rahmat)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp