DaerahPandeglang
Trending

Berkunjung ke Kampung Cangkeuteuk Pandeglang, Terisolir Tak Terlihat Rupa Jalan Beraspal dengan Warga yang Senang Bertani

Pemerintah pusat sejak 2015 silam telah menggulirkan dana desa (DD) untuk membantu percepatan pembangunan di pedesaan. Rupanya alokasi DD ini belum sepenuhnya dirasakan dampaknya oleh masyarakat terutama Kampung Cangkeuteuk, Desa Banyuasih, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang.

Muhaemin – Kabupaten Pandeglang

Kampung Cangkeuteuk merupakan perkampungan di pelosok Pandeglang yang selama ini menjadi wilayah yang seperti terisolasi. Pasalnya, aktivitas warga di sana hanya ditopang oleh jalan setapak. Berukuran tak lebih dari 3 meter. Beralaskan tanah yang sama sekali belum pernah terjamah oleh pembangunan apalagi aspal.

Secara administrasi, Kampung Cangkeuteuk masuk ke Desa Banyuasih Kecamatan Cigeulis. Jangan harap kendaraan roda empat bisa menembus perkampungan tersebut. Sebab, satu-satunya akses ke lokasi ini hanya berupa jalan setapak berukuran tak lebih dari 3 meter tadi. Jalan yang dipenuhi tanah liat berbatu dan harus melewati 3 aliran sungai tanpa adanya jembatan penyebrangan.

Untuk menuju lokasi, setidaknya dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam dari ruas Jalan Tanjung Lesung-Sumur. Tak jauh dari kantor Desa Banyuasih, jalanan menuju Kampung Cangkeuteuk sudah dihadapkan dengan kontur jalan rusak berbatu yang masih belum pernah diperbaiki oleh pemerintah setempat. Masuk ke perkampungan, siapapun akan menemukan sebuah jembatan yang hanya bisa dilalui satu kendaraan roda empat. 

Tak jauh di ujung jalan, jalur ini terputus oleh aliran sungai yang kerap meluap jika wilayah tersebut seharian diguyur hujan. Setelah melewati aliran sungai dan menanjak sedikit melewati jalan bebatuan, suasana pemukiman penduduk akan mulai terlihat. Suasananya sangat sepi karena saat siang penduduk pergi cocok tanam. Namun saat menemukan penduduk, sambutanya pasti hangat dan menyejukan.

Ariman adalah warga setempat yang berhasil ditemui saat wartawan berkunjung ke kampung ini akhir pekan kemarin. Rumah Ariman bisa dibilang check point dari dan menuju kampung karena lokasinya ada di ujung kampung berdekatan dengan jalan masuk kampong. Ia mengarakan tidak semua kendaraan bisa menembus masuk ke ujung perkampungan lantaran kondisinya yang berada di tengah hutan. 

“Ke atas masih banyak rumah lagi. Tapi gak bisa masuk motor. Jalan ke sana lebih parah dan nanjak soalnya,” ujar pria beranak satu tersebut.

Kata Ariman, di Cangkeuteuk ia tinggal bersama 20 KK lainnya. Semenjak tinggal di kampung ini, Ariman mengaku belum pernah melihat ada pembangunan jalan, jembatan, atau infrastuktur lainnya. “Warga di sini memang terisolir. Kami bukan pendatang tapi warga asli sini (Cangkeuteuk-red),” jelasnya.

Meski seperti terisolir, Cangkeuteuk kata Ariman merupakan salah satu wilayah pemasok hasil pertanian di Cigeulis seperti padi, pisang, dan kelapa. “Biasanya kalau panen, pisang, kelapa sama hasil alam lain itu banyak yang nyari ke sini. Tapi mau gimana, kami kadang susah mau ngejualnya ke luar. Jalan ini geh sebetulnya dibukanya sama warga aja gotong royong, dulu mah lebih parah dari ini,” ungkapnya.

Ariman menyebut, jalan setapak dari dan menuju kampungnya diperlebar warga pada tahun 2000 lalu. Sampai sekarang, belum ada pihak yang berinisiatif membangun. Padahal kata Ariman jalan tersebut merupakan satu-satunya akses masyarakat yang biasa digunakan berpergian mengangkut hasil kebun dan anak-anak pergi ke sekolah.

“Kalau habis hujan malamnya, anak-anak itu pasti enggak bisa lewat sungai karena airnya meluap. Dulu pernah ada yang ngecek ke sini, katanya mau dibangun jalannya. Tapi sampai sekarang enggak pernah ada pembangunan,” keluh Ariman.

Kepala Desa Banyuasih Iyat Sanjaya membenarkan kondisi infrastruktur ke kampung di wilayahnya masih belum tersentuh pembangunan secara merata. Namun dia mengklaim, kondisi saat ini masih lebih baik dibandingkan sebelum dia memimpin menjadi kepala desa. 

“Kalau saya harus ngomong, situasi sekarang dalam kondisi agak baik itu kang daripada dulu, dulu itu lebih parah mobil juga enggak bisa masuk sama sekali. Kalau sekarang, itu udah banyak perubahan,” katanya.

Iyat juga menyatakan, sudah ada beberapa upaya untuk mendukung mobilisasi warga yang tinggal di kampung terisolir tersebut. Salah satunya melalui pengerasan jalan dan memberikan bantuan bagi sejumlah warga setempat. 

“Warga di sana juga kan hanya beberapa rumah saja, enggak banyak. Sekarang itu sudah mendingan, kalau dulu masih tanah, motor juga enggak bisa lewat harus jalan kaki, sekarang motor udah bisa nyampe ke ujung kampung,” tandasnya.

“Kalau minta cepat dibangun jalannya memang susah. Kami punya prioritas lain yang penduduknya lebih padat. Tapi Insya Allah semua akan diperbaiki secara bertahap,” pungkasnya. (*)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp