DaerahPandeglang
Trending

Kisah Guru Honorer di Pandeglang Hanya Dibayar Rp12.500 per Hari, Diajak Anggota DPR RI Dedi Mulyadi ke SD Ekologi di Purwakarta

PANDEGLANG, BANTEN RAYA – Anggota DPR RI asal Purwakarta, Jawa Barat Dedi Mulyadi mengundang seorang guru honor asal Kampung Baru, Desa Pasirlancar, Kecamatan Sindangresmi, Kabupaten Pandeglang bernama Dedi Mulyadi ke Purwakarta. 

Momen pertemuan Dedi DPR atau Kang Dedi dengan Dedi honorer ini menyita eprhatian setelah diunggah mantan Bupati Purwakarta itu di kanal YouTube-nya yakni Kang Dedi Mulyadi Channel, Kamis dan Jumat (25-26/3/2021). Hingga berita ini ditulis sudah ada 189,526 yang menonton dan 2.173 yang berkomentar

Dalam video tersebut, Dedi sang guru honorer bercerita awal mula datang ke Purwakarta. Awalnya Dedi mendapat telepon dari Kang Dedi untuk mengonfirmasi kebenaran informasi bahwa selama ini Dedi honorer hanya dapat honor Rp150 ribu per bulan. Tidak sekadar telpon, Kang Dedi lalu mengundang Dedi ke Purwakarta.

Dedi honorer berangkat  dari rumahnya di Desa Pasirlancar pukul 05.00 WIB dan tiba ditujuan jam 11.00 WIB. “Jauh Pak ya seperti ke semarang,” kata Kang Dedi

Dedi honorer mengaku selama ini mengajar sebagai guru sukarelawan di SD Pasirlancar 2 Kecamatan Sindangresmi, Kabupaten Pandeglang. Penghasilan Dedi dari mengajar Rp12.500 per hari dan setiap bulan rata-rata mendapat Rp150 ribu.

“Tukang macul juga Rp70 ribu per hari. Lebih kecil (dari tukang macul-red) ya Pak. Kalau sebulan Pak Dedi ini hanya 10 kali ngajar maka hanya dapat Rp125 ribu,”  ucap Kang Dedi berseloroh

“Penghasilan tambahan saya kadang-kadang dapat kadang enggak. Paling saya dapat dari buruh tani dan ngojek serta jualan voucher di rumah. Kalau dari sekolah tidak menentu,” timpal Dedi honorer

Dedi honorer yang juga wali kelas 3 di SD Pasirlancar 2 mengungkapkan, di sekolahnya guru PNS hanya ada satu orang dan 4 lainnya hanya sukarelawan. Dedi honorer sendiri yang lahir pada 1982 ini merupakan anak pertama dari Guru Santa, guru perintis SDN Pasirlancar 2. Dedi honorer merupakan lulusan  STAI Babunajah Menes jurusan pendidikam agama Islam (PAI). Semenjak lulus Dedi menjadi guru honor, tepatnya tahun 2007.

“Data saya sudah tercatat di Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) tapi penghasilan enggak tentu,” lirihnya

Di dalam video itu juga, Kang Dedi menyatakan sengaja mengundang Dedi honorer setelah ada pemberitaan adanya guru honorer di Pandeglang yang berpenghasilan  Rp12.500 per hari.

“Dengan penghasilan seperti ini bagaimana menghidupi keluarganya? Saya mengundang Pak Dedi untuk melihat sekaligus belajar ke sekolah yang dibangun Kang Dedi Purwakarta yakni SD dan SMP Kahuripan yang berbasis pertanian,” tutur Kang Dedi

Sekolah Ekologi Kahuripan digagas dan dibangun Kang Dedi pada 2003 saat menjabat Wakil Bupati Purwakarta. 

Dipenghujung video, tampak Kang Dedi dan Dedi honorer tampak mengunjungi SD Ekologi atau SD Kahuripan Purwakarta. Dedi diajak melihat-lihat sekolah yang berbasis pertanian ini.

“Sekolah itu tidak usah dibikin gaya mengikuti kota, tetap saja gaya kampung. Di lingkungan sekolah tidak boleh ada ruang yang kosong. (Pelajar di Pandeglang) enggak usah daring lah, tapi suruh mereka belajar bertani saja,” Dedi memberi solusi.

Di SD Kahuripan tersebut memang tampak banyak tanaman dan ada juga pesawah. Ada juga bahan-bahan pembuat bakteri yang menurut Kang Dedi adalah pola pembelajaran biologi yang langsung dipraktikkan.  Di pojok sekolah terlihat kursi tamu yang berbahan dasar botol air mienral hasil karya siswa SD Ekologi. Terlihat beberapa wadah berisi eco enzim hasil permentasi sisa-siaa sampah organik.

“Eco Enzim ini dibuat oleh siswa untuk pupuk dan menjernihkan udara air dan tanah,” kata seorang guru SD Kahuripan.

Kepada guru setempat, Kang Dedi meminta agar setiap sudut atau ruangan sekolah ada nama tanaman seperti blok cikur, sereh, dan jahe.

“Saya sudah ngasih solusi (ke pemerintah pusat), pengakatan PNS itu tidak usah rata dan ada seleksi, karena dengan seleksi orang daerah tidak bisa bersaing. Dan begitu ditempatkan (PNS baru-red) maka dia akan minta pindah. Guru-guru seperti ini (honorer-red) harus diangkat jadi PNS,” Kang Dedi menunjuk Dedi honorer.

“Harus dipetakan data di setiap wilayah oleh kepala dinas. Guru honorer langsung diangkat berdasarkan kebutuhan di daerah tersebut. Kalau dibuat seleksi lagi maka kalah dengan lulusan baru. Bapak ini (Dedi honorer-red) tidak akan kebagian terus. Jangan terlalu ribet. Dulu saya pernah lakukan kebijakan itu,” tuturnya. (muhaemin)

 

 

 

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp