DaerahPandeglang
Trending

Saat Ondel-ondel Berseliweran di Kota Santri, Di Jakarta Dilarang di Pandeglang Jadi Hiburan

Eh ujan gerimis aje. Ikan teri diasinin. Eh jangan menangis aje. Yang pergi jangan dipikirin. Eh ujan gerimis aje. Ikan lele ada kumisnye. Eh jangan menangis aje. Kalo boleh cari gantinye.

Muhaemin – Pandeglang

Dua potongan bait lagu di atas dijamin sangat familiar di telinga yang mendengarkan. Karya besar aktor sekaligus penyanyi ternama Tanah Air, Benyamin Sueb belakangan kerap diperdengarkan oleh sekelompok orang melalui pengeras suara dijalan-jalan utama Kota Pandeglang.

Sekelompok orang orang yang rajin memutar lagu Benyamin memang bukan warga Pandeglang. Mereka adalah pengamen yang menggunakan Ondel-ondel Betawi sebagai sarana pertunjukkan dan menarik perhatian warga. Grup pengamen ini berseliweran di jalan-jalan utama Pandeglang sejak setahun terakhir.

Biasanya mereka berjumlah 5 orang, dua dewasa dan tiga anak-anak atau remaja. Dua orang dewasa berperen jadi Ondel-ondel secara bergantian, tiga orang lainnya bertugas mendorong gerobak yang beriisi alat pemutar lagu sejenis MP3 plus salon kecil atau toa.

Saat sedang atraksi, tingkah laku boneka khas budaya Betawi itu memang cukup menarik karena selain bentuk Ondel-ondel yang besar, bahkan ada yang bilang seram, irama lagu Hujan Germis Aje, biasanya semakin membuat warga penasaran dan tidak jarang yang kemudian memberikan uang sawer. Uang sawer ini secara cekatan ditampung oleh satu orang pengiring Ondel-ondel.

Fajar (24) anggota kelompok pengamen ini menyatakan suidah dua tahun ada di Pandeglang dengan tujuan mengamen dengan Ondel-ondel. Meski ikon Betawi itu memiliki berat 5 kilogram dan menjadi temannya setiap hari, Fajar mengaku sudah terbiasa dan dituntut kebutuhan hidup. “Sudah dua tahun saya (ngamen-red) di Pandeglang. Kami kost di sekitar sini saja,” jelas Fajar dijumpai di sekitar Jalan Sukarela, belum lama ini.

Menurutnya, ia sengaja mengamen di Pandeglang karena di Jakarta sudah terlampau banyak pengamen yang menggunakan Ondel-ondel. Mengamen di Pandeglang, kata Fajar, jika lagi ramai sehari bisa memperoleh Rp 300 ribuan. Jumlah itu akan dibagi berempat dan disesuaikan besarannya. 

“Di Pandeglang ada 4 grup yang mengamen dengan menggunakan Ondel-ondel. Ada juga yang menggunakan alat musik langsung, bukan musik rekaman,” kata Fajar.

Ia juga mengaku belum mengetahui jika mengamen di Jakarta dengan Ondel-ondel sudah dilarang Pemprov DKI. “Ngamen di Jakarta dengan ondel-ondel masih boleh pak,” imbuhnya.

Solihin, warga Kampung Nagara Karangtanjung Pandeglang, mengaku mengetahui jika Ondel-ondel menjadi salah satu budaya khas Betawi yang harus dilestarikan. 

“Jika di Pandeglang juga dilarang, kasihan juga karena mereka kan cari nafkah, apalagi situasinya kayak gini nyari duit susah. cuma musiknya terlalu berisik,” komentar Solihin. (*)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp