PendidikanSerang
Trending

Hari Pertama PPDB SMP di Kabupaten Serang Diwarnai Server Error

SERANG, BANTEN RAYA – Penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2021 di beberapa sekolah di Kabupaten Serang masih diwarnai gangguan server. Gangguan tersebut kerap terjadi setiap hari pertama PPDB dibuka. Adapun alasan gangguan server terjadi karena membludaknya para pendaftar.

Di SMPN 1 Ciruas, para orangtua siswa datang ke sekolah pada pagi hari dan berharap bisa dengan cepat mendaftarkan anaknya. Namun hingga siang hari server masih mengalami gangguan. “Iya server error karena bertumpuknya pendaftar pada hari pertama,” ujar Ketua Panitia PPDB SMPN 1 Ciruas Omay Mayapada, Senin (21/6).

Ia memastikan, pihak sekolah telah melakukan persiapan jauh-jauh hari namun banyaknya pendaftar pada saat yang bersamaan membuat server menjadi error. “Mudah-mudahan secepatnya bisa normal kembali. Untuk kuota yang disiapkan di sekolah kami 288. Kita ada jalur zonasi, jalur afirmasi, jalur perpindahan orangtua, dan jalur prestasi,” katanya.

Omay meminta agar para orangtua bersabar terkait errornya server tersebut. “Mungkin orangtua panik karena hari pertama. Kalau pendaftarannya kolektif bisa sebenarnya tapi itu tergantung dari guru SDnya. Pendaftaran sampai tanggal 26 Juni tapi verifikasi berkas sampai 3 Juli,” tuturnya.

Sementara itu, Koordinator PPDB SMP Yayan Suryana mengakui jika pada hari pertama dibukanya PPDB terjadi masalah dengan server. “Tadi (kemarin-red) saya cek ada 9.000 yang masuk. Insya Allah besok (hari ini-red) sudah normal lagi dan pada intinya tidak ada peserta didik yang dirugikan dari sisi data, tim IT (informasi teknologi) kami sudah memperbaiki servernya,” katanya.

Ia mengungkapkan, sebagian besar server yang error terjadi di sekolah-sekolah yang banyak pendaftarnya seperti di SMPN 1 Ciruas, SMPN 1 Kramatwatu, dan SMPN 1 Cikande karena lalu lintasnya cukup padat. “Untuk sekolah-sekolah yang lain normal. Untuk cetak pendaftaran belum bisa dibuat, tapi data terismpan di sekolah-sekolah, tinggal orangtua konfirmasi ke sekolah,” tuturnya.

Yayan menuturkan, terkait dengan zonasi, pihaknya akan melakukan verifikasi khawatir ada perbedaan antara jarak yang dibuat orangtua siswa dengan jarak yang ditentukan google map. “Nanti disepakati jarak yang digunakan sebagai alat ukur seleksi. Kalau jalur yang lainnya sudah jelas hanya berbasis dokumen saja,” ujarnya. (tanjung)

Related Articles

Back to top button