DaerahSerangWisata & Kuliner
Trending

Menyambangi Curug Tomo Pandeglang, Perjalanan Menuju Spot Indah Penuh Perjuangan

Oleh: M Tohir

Mumpung sedang senggang, saya memutuskan untuk pergi ke air terjun di Padarincang. Daerah Padarincang, Kabupaten Serang konon memiliki beberapa air terjun indah. Namanya Curug Tomo.

Saya bergegas mengajak Syaiful Anwar, keponakanku yang pernah beberapa kali mengunjungi air terjun di Padarincang. Setelah salat Jumat kami berangkat ke sana. 

Kami melintasi Jalan Palima-Cinangka. Setelah sampai di Pasar Padarincang, Anwar membelokkan motornya ke arah kiri. Tidak ada plang nama bahwa itu pintu masuk ke air terjun yang ingin dicapai. Jalan yang semula saat di Jalan Palima-Cinangka mulus karena seluruhnya dihotmiks kini berubah menjadi jalan beraspal yang rusak di sana-sini. 

Melewati perkampungan, perjalanan sedikit menyenangkan karena di kiri jalan aliran sungai dengan bebatuan besar dan kecil khas daerah pegunungan menghampar. Sementara air bening mengalir di celah-celah bebatuan itu. 

Sesekali kami melewati jalan yang membelah persawahan. Lazimnya sawah di daerah pegunungan, bentuknya berundak dan indah. Airnya mengalir tak henti-henti. Bila di daerah Kasemen, Kota Serang, saat ini petani tidak menanam padi dan sawah kering kerontang karena saluran irigasi bendungan Pamarayan ditutup, di daerah ini sawah tumbuh subur dan hijau tak mengenal kemarau. 

Semakin  lama jalan makin membahayakan. Setelah jalan beraspal lewat, kini jalan hanya berupa tanah dengan bebatuan yang memiliki permukaan halus khas batu pegunungan. Melintasi lereng bukit dan gunung, setiap saat bahaya mengintai. Sedikit saja hilang konsentrasi maka sepeda motor akan terperosok ke bawah jurang. 

Minimal ke dataran yang lebih rendah ke bawah. Maka konsentrasi, sekaligus kelihaian dalam mengatur gigi, gas, kopling, dan rem mutlak dibutuhkan. 

Medan semakin berbahaya karena ada sejumlah jalan yang memiliki ketinggian atau turunan sangat curam. Sepeda motor yang saya tumpangi sempat mati sekali saat menanjak di jalan dengan tanjakan curam karena tidak mampu mengatur dengan pas antara kopling dan gas. Sementara sepeda motor Anwar harus rela botak pada bagian ban saat menekan rem dengan sangat dalam ketika menuruni jalan yang sangat curam. 

Jalanan yang berbahaya dan jarak yang jauh membuat perjalanan mendebarkan. Namun pemandangan di sekitar yang indah menghilangkan rasa was-was itu. Setelah menempuh jalan berkelok-kelok tajam dan turun naik tajam pula akhirnya sampailah kami di gerbang masuk Curug Tomo. 

Eh tunggu! Ini bukan Curug Tomo. Ternyata kami tersesat. Kami sampai di Curug Lewi Bumi bukan di Curug Tomo. Tapi kami sudah membayar biaya masuk Rp10.000 untuk satu sepeda motor dan parkir Rp3.000 untuk biaya parkir. 

Menurut salah seorang penjaga curug itu, Curug Tomo sebenarnya sudah dekat. Hanya saja harus berjalan kaki selama sekitar setengah jam. Karena sudah lelah dan ingin segera sampai ke lokasi, kami memilih berjalan kaki ketimbang naik motor tetapi melewati jalan terjal berbatu tajam dan lebih jauh. Apalagi kami tidak tahu akan seberapa lama perjalanan bila menggunakan sepeda motor. 

Sepeda motor kami parkir di Curug Leuwi Bumi dan kami melintasi persawahan dengan latar belakang bukit menjulang. Dua petani perempuan tampak sedang menanam padi. Saya bertanya di mana Curug Tomo kepada salah satunya. Dia bilang sudah dekat. Lalu saya meminta anaknya yang lelaki berusia sekitar enam atau tujuh tahun untuk mengantar kami. Anak itu yang bernama Enji ternyata mau. Tetapi dia meminta satu syarat yaitu upah! 

Saya bertanya berapa dia mau dibayar untuk menjadi guide kami. Dia bilang sepuluh ribu. Saya mengiyakan. Akhirnya setelah melewati persawahan dan aliran sungai dengan air jernih dan bebatuan besar dan kecil sampailah kami di Curug Tomo. 

Suara gemericik air tampak jelas di hutan yang tenang itu. Di salah satu gubuk yang berfungsi sebagai kamar mandi saya lihat air dialirkan ke sana dengan menggunakan bambu yang dibelah dua. 

Ketika sampai tidak ada satu orang pun di sana. Ada dua gubuk yang merupakan warung tempat berjualan pun tampak tutup. Saya berteriak-teriak agar didengar atau direspons orang. Ternyata tidak ada yang merespons. Hanya suara hewan dan air yang mengalir di bebatuan yang terdengar. 

Sementara perut saya sudah minta diisi. Anwar bilang ada warung yang berjualan di dekat air terjun makanya saya tidak membeli bekal sewaktu di jalan. Ternyata warung-warung itu tutup. Anwar mengelak, itu karena hari Jumat. 

Akhirnya setelah setengah jam istirahat barulah ada seorang perempuan paruh baya datang. Dia ternyata adalah salah satu pedagang di warung itu. Perempuan itu mengaku datang setiap Jumat sore ke warungnya dan ia akan menginap pada malam harinya karena esok pagi, saat hari Sabtu. Pengunjung akan ramai berdatangan dan dia harus sudah siap menyambut pagi-pagi sekali. Perempuan ini kemudian kami kenal bernama Siti Rohmah. 

Rohmah bercerita Kamis lalu ada belasan pengunjung yang datang ke Curug Tomo. Mereka berasal dari Tangerang dan Serang. Sementara kemarin hanya saya dan Anwar yang datang ke lokasi itu. Curug Tomo menurutnya akan ramai saat akhir pekan, Sabtu dan Minggu. 

Curug Tomo
Anak-anak bermain di Curug Tomo.

Akan lebih ramai lagi ketika setelah Lebaran atau saat musim libur sekolah tiba. Saat kedua kondisi terakhir, jumlah pengunjung bisa mencapai ratusan. Rohmah sendiri bisa meraup uang Rp1,3 juta sehari bila ramai. 

Menurut Husen, salah satu pengelola Curug Tomo, curug tersebut dikelola olehnya bersama dengan Saleh Bahang. Curug Tomo sendiri berada di Kampung Pasir Ceungal (Cikupa), Desa Ramea, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten (awalnya saya kira ini daerah Padarincang ternyata sudah masuk Mandalawangi). 

Husen mengaku, setiap hari mendatangi Curug Tomo untuk berpatroli khawatir ada pasangan muda-mudi yang berbuat tidak senonoh di lokasi itu. Ia juga yang meminta pengunjung bayaran masuk. Setiap yang masuk akan ia kenakan biaya Rp10.000, baik untuk dewasa maupun anak-anak. 

Karena berada di hutan dan dikelilingi gunung, fasilitas yang disediakan belumlah lengkap. Hanya ada kamar mandi plus musola dan bangku sederhana terbuat dari kayu untuk duduk-duduk. Warung di sana menyediakan makanan ringan seperti roti, kuaci, pilus, bahkan mie rebus. Harganya relatif murah. 

Saya yang sejak tadi lapar memesan mie rebus kepada Rohmah. Alangkah bahagianya ketika ia menyuguhkan mie rebus dengan nasi putih. Rasanya hari itu tidak ada makanan senikmat mie rebus dengan nasi. Tak lupa topping pilus kecil-kecil. 

Menurut Husen saat musim kemarau adalah saat yang paling tepat untuk menikmati air terjun. Pada saat itu air akan tampak bening bersih meski volumenya sedikit. Jalanan juga akan mudah dilalui karena tanah kering. Sementara saat musim hujan air akan keruh meski volumenya lebih banyak. Jalanan juga agak licin sehingga harus lebih hati-hati saat melangkah. 

Husen mengungkapkan, penamaan Curug Tomo tidak ia ketahui diberikan oleh siapa. Namun ada dugaan ini berkaitan dengan cerita yang berkembang di daerah itu tentang ular besar yang menjaga air terjun atau Curug Tomo. 

Berdasarkan cerita yang berkembang sejak dahulu diyakini ada ular besar yang menjaga air terjun ini dengan mulut menganga lebar. Dalam mulut ular yang menganga ada tempat menanak nasi yang biasa disebut oleh warga Pandeglang dengan kastrol atau tomo berisi emas. Emas itu dimiliki dan dijaga oleh seorang wali bernama wali Ander. Kemungkinan dari cerita inilah nama Tomo diambil. 

Hari semakin sore. Setelah puas berenang dan meminum air kelapa segar dari sebutir kelapa muda saya berbilas di kamar mandi. Setelah salat ashar, saya pamit pulang kepada Rohmah dan Husen. (*)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp