DaerahHukum & KriminalSerang
Trending

Palsukan Surat Tanah Milik Adik Presiden Soeharto, Mantan Kades Sukadalem Ditahan

SERANG, BANTEN RAYA- Mantan Kepala Desa (Kades) Sukadalem, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang Ali Muchtar ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Serang, Jumat (26/3/2021). Penahanan tersebut atas kasus pembuatan surat tanah palsu dengan nilai Rp1,8 miliar pada tahun 2009. 

Dalam putusan kasasi, Ali Muchtar yang disapa Abah Ali dinyatakan bersalah melakukan pemalsuan surat tanah milik adik mantan Presiden RI Soeharto yaitu Noek Bressinah Soehardjo.

Dalam pantauan di lokasi, Ali Muchtar dibawa ke Rutan Serang sekitar pukul 16.00 WIB. Sebelum dibawa, sempat terjadi adu mulut antara keluarga Ali Muchtar dengan anggota Intel Kejari Serang. Keluarga tidak menerima anggota mengabadikan momen penahanan mantan kades tersebut.

Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Serang Yogi Wahyu Buana mengatakan Ali Muchtar merupakan terdakwa kasus pemalsuan surat tanah seluar 60 hektare di Desa Sukadalem. Pada Jumat (26/3/2021) ini, Kejari Serang melakukan penahanan sesuai putusan kasasi.

“Di tingkat tuntutan, Ali Muchtar dituntut pidana penjara selama 4 tahun. Kemudian dalam putusan (vonis) di PN Serang yaitu pidana penjara selama 6 bulan, namun tidak dijalani karena melakukan suatu tindak pidana sebelum masa percobaan selama 1 satu tahun berakhir. Di tingkat banding menguatkan putusan PN Serang. Kasasi jadi dua tahun,” kata Yogi saat ditemui di Kejari Serang, kemarin.

Yogi menambahkan, Ali Muchtar akan mejalani masa tahanannya di Rutan Serang, setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan dan dinyatakan bebas dari virus Covid-19.

“Kita bawa ke Rutan Serang, sudah diperbolehkan,” tambahnya.

Berdasarkan data yang diperoleh Banten Raya pada tahun 1993, korban Noek Brissina Soeharjo mendatangi rumah Ali Muchtar di Kampung Makam Bata, Desa Sukadalam. Saat itu korban bersama suaminya, Soehardjo, datang untuk bersilaturahmi. Di sana Ali menawarkan tanah yang terletak di Desa Sukadalem.

Kemudian pada tahun 1994, adik mantan Presiden Soeharto itu kembali menemui Ali Muchtar untuk membeli tanah yang ditawarkan seluas 60 hektare, dan menyerahkan uang sebesar Rp1,8 miliar secara bertahap kepadanya.

Ali Muchtar dipercaya oleh korban untuk mengurus surat-surat sampai terbit sertifikat hak milik (SHM), karena Ali Muchtar merupakan Kepala Desa Sukadalam. Kemudian, Ali memerintahkan bawahannya mengumpulkan warkah-warkah untuk proses pembuatan SHM ke Kantor Pertanahan Kabupaten Serang. Setelah SHM tersebut selesai diproses oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Serang, SHM tersebut diserahkan kepada korban.

Pada tahun 1999, Ali kembali menawarkan tanah seluas 3.250 meter persegi seharga Rp32 juta. Dari keseluruhan tanah yang dibeli oleh Noek Brissina Soehardjo terdapat 72 sertifikat untuk 60 hektare tanah. Namun pada kenyataannya hanya ada 15 hektare tanah saja. Dari 72 sertifikat hanya 49 sertifikat terdaftar, sedangkan 20 SHM tidak tercatat atau tidak terdaftar, dan 3 SMH belum dilakukan pengecekan. Akibatnya korban mengalami kerugian Rp1,3 miliar. (darjat/rahmat)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp