Serang

Surat Suara Tidak Sah Mencapai 35.651, Pengamat: Harus Jadi Perhatian KPU

SERANG, BANTEN RAYA – Partisipasi pemilih pada Pilkada Kabupaten Serang mencapai 64 persen atau mencapai 712.015 namun suara yang dinyatakan tidak sah mencapai 35.651. Banyaknya suara tidak sah itu menjadi perhatian pengamat politik dari Untirta Leo Agustino.

Leo mengatakan, tingginya surat suara yang dianggap tidak sah tersebut dikarenakan berbagai faktor seperti sosialisasi yang minin dan pemahaman masyarakat yang masih kurang tentang mencoblos yang benar.

“Dalam pandangan saya pilkada sekarang ini kan pilkada yang tidak normal sehingga persoalan sosialisasi terhadap masyarakat agak minim. Kalau misalkan ditelisik ada pemilih pemula ini juga boleh jadi disebabkan karena mereka yang kurang mendapat sosialisasi,” kata Leo, Sabtu (19/12).

Kemudian, tingginya surat suara yang diangap tidak sah juga diduga karena faktor pemahaman masyarakat yang masih kurang. “Kemudian, ada faktor pemahaman, ketika dia mendapat sosialisasi belum tentu dia paham, kadang-kadang orang kita ini kan malu bertanya, karena kalau bertanya dianggap bodoh dan dianggap mengerti,” ujarnya.

Padahal menuru Leo, pemahaman dalam kegiatan sosialisasi sebagai uji petik bagi penyelenggara pilkada. “Padahal, dalam kontek ini pemahaman itu uji petik, misalkan kita mencoblos di luar gambar sah atau tidak atau kemudian mau mencoblos dua-duanya. Saya kira ini menjadi tantantangan bagi KPU ke depan bahwa ada hal-hal yang perlu diperhatikan,” tuturnya.

Sementara itu, Divsisi Hukum dan Pengawasan KPU Kabupaten Serang Zainal Muttaqin mengatakan, terkait tingginya surat suara yang dianggap tidak sah tersebut diperlukan analisis mendalam untuk mengetahui penyebabnya.

“Berkaitan dengan surat suara tidak saha bisa saja surat suaranya tidak dicoblos, atau dua-duanya dicoblos, atau juga surat suaranya dirusak,” kata Zainal.

Untuk mengetahui kondisi ril bentuk surat suara tidak sah secara keseluruhan harus terlebih dahulu membuka kotak suara namun hal tersebut tidak mungkin dilakukan.

“Kita tidak tahu mereka kenapa bisa mencoblos sampai tidak sah yang saya yakini masyarakat itu tahu bagaimana mencoblos yang sah karena sosialisasi sudah kita lakukan,” tuturnya. (Tanjung)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp
%d blogger menyukai ini: