DaerahSerang
Trending

Tak Bisa Nyalon Lagi, Balon Kades Petahana di Serang Bertumbangan di Tes Tertulis

SERANG, BANTEN RAYA – Sejumlah bakal calon (balon) kepala desa atau kades petahana berguguran pada seleksi tes tertulis calon yang digelar panitia pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak tingkat kabupaten. Selain ada petahana yang gugur, ada juga desa yang tidak jadi mengikuti tes tertulis karena ada salah satu bakal calon yang mengundurkan diri.

Informasi yang berhasil dihimpun, balon kades petahana yang gagal dalam tes tertulis di antaranya balon Kades Kaserangan, Kecamatan Pontang Tohir, balon Kades Kaserangan, Kecamatan Ciruas Kifli Tohir. Selain itu mantan Kades Kendayakan Mashudi yang menjabat di 2009 juga gugur dalam tes terulis balon kades.

BACA JUGA: Sempat Dicoret, Pencalonan Jahroni Jadi Balon Kades Cikoneng Diputuskan Bisa Dilanjut

“Untuk di Kecamatan Jawilan ada dua desa yang ikut tes tetulis yaitu, Desa Cemplang dan Desa Pagintungan. Kalau di Desa Cemplang petahananya lulus tapi di Desa Pagintungan ada mantan kepala Desa Jawilan yang maju di Desa Pagintungan tapi enggak lulus tes tertulis,” ujar pegawai Kecamatan Jawilan Nana Heriyatna, Rabu (16/6/2021).

Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Serang Tb Entus Mahmud Sahiri mengatakan, dari total 144 desa yang menggelar pilkades serentak tahun ini, ada 911 orang balon kades yang mendaftar. Dari 144 desa itu terdapat 27 desa yang balon kadesnya lebih dari lima orang sehingga dilakukan seleksi tertulis.

“Alhamdulillah tes tertulis berjalan dengan lancar dan sudah dihasilkan lima besar untuk masing-masing desa. Kita mengapresiasi masyarakat yang sudah mendaftar sebagai bakal calon meskipun pada hari ini (kemarin-red) tidak bisa lanjut ke tahap selanjutnya tapi mereka sudah berpartisipasi dan punya niatan untuk membangun desa,” kata Entus.

Saksikan Podcast Meja Redaksi di Banten Raya Channel

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Serang Rudi Suhartanto mengungkapkan, semula ada 30 desa yang balon kadesnya lebih dari enam orang, namun dalam perjalanan banyak yang mengundurkan diri sehingga tersisa 26 desa.

“Untuk desa yang paling banyak pesertanya Desa Nambo Udik, Kecamatan Cikande 11 orang dan Desa Kendayakan, Kecamatan Kragilan 11 orang,” ujar Rudi. (tanjung/fikri)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp