DaerahKesehatanPemprov Banten
Trending

Sudah Diterapkan Tapi Kasus Covid-19 Tetap Naik, Penerapan PSBB dan PPKM di Banten Mesti Dievaluasi

SERANG, BANTEN RAYA- Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Banten menilai penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di wilayah Tangerang Raya dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Banten mesti dievaluasi. Sebab, meski telah dilaksanakan namun kasus konfirmasi Covid-19 masih saja mengalami peningkatan yang signifikan.

Seperti diketahui, Gubernur Banten telah memerpanjang pelaksanaan PPKM di wilayah Tangerang Raya. Keputusan tersebut tertuang dalam Instruksi Gubernur nomor 2 tahun 2021 tentang perpanjangan PPKM untuk pengendalian penyebaran Covid-19 di Provinsi Banten. Perpanjangan berlaku mulai 26 Januari hingga 8 Februari 2021.

Untuk penerapan PSBB di seluruh wilayah Banten tertuang dalam Keputusan Gubernur Banten nomor 433/Kep.8-Huk/2021. Keputusan itu adalah tentang perpanjangan tahap kelima PSBB di Banten dalam rangka percepatan penanganan Covid-19. Dalam poin memutuskan, ditetapkan perpanjangan PSBB diberlakukan sejak 19 Januari hingga 17 Februari 2021.

Ketua IDI Provinsi Banten Budi Suhendar mengatakan, selain penguatan peran satuan tugas (Satgas) percepatan penanganan Covid-19, perbaikan juga harus dilakukan pada penerepan PPKM dan PSBB. Hal itu dilakukan agar pelaksanaannya bisa lebih efektif. 

“Mungkin ada pengaruh, tapi kami melihat data masih terjadi peningkatan (kasus positif) yang tajam. Artinya memberikan petunjuk ada hal yang masih belum berjalan dengan baik,” ujarnya, kemarin.

Ia menjelaskan, evaluasi mesti dilakukan agar PSBB dan PPKM bisa benar-benar efektif mencegah dan menanggulangi pandemi Covid-19. Sebab, hingga kini IDI juga belum bisa menemukan akar permasalahannya. Hasil evaluasi bisa digunakan sebagai acuan merumuskan kebijakan dalam memperkuat pencegahan penyebaran virus korona. “Ini yang ingin kita dorong ada rapat koordinasi satgas covid secara menyeluruh, sehingga kita bisa lihat apa sih akar masalahnya,” katanya.

Adapun salah satu yang menjadi sorotannya adalah sejumlah daerah di Banten yang belum menyediakan fasilitas kesehatan pasien Covid-19 tanpa gejala atau bergejala ringan. Dampaknya, para pasien orang tanpa gejala (OTG) itu pun harus melakukan isolasi mandiri di rumah sendiri. “Masalahnya pengawasannya, bagaimana mengontrol, mekanismenya belum baik,” ungkapnya.

Menurutnya, dengan masih minimnya pengawasan Satgas Covid-19 di tingkat bawah, pihaknya sering mendapatkan laporan bahwa pasien OTG itu tetap keluar rumah, sehingga potensi penularan meningkat. Selain itu, isolasi mandiri di rumah itu rawan menimbulkan terjadinya klaster keluarga. “(Pasien OTG) suka jalan-jalan juga, akhirnya potensi penularan juga meningkat,” tuturnya.

Disinggung soal vaksinasi, dokter forensik di Rumah Sakit Dradjat Prawiranegara itu menegaskan, vaksin bukanlah obat Covid-19. Vaksin merupakan upaya meningkatkan antibodi tubuh manusia, mempercepat kekebalan kelompok sehingga virus sulit menginfeksi.

“Dan itu butuh waktu, untuk satu orang saja butuh waktu. Artinya kita masih harus melalukan gerakan 5M (mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas). Dilakukan sampai data menunjukan telah terjadi penurunan atau aman,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten Ati Pramudji Hastuti mengungkapkan, tiga daerah yang sempat masuk zona merah yaitu Kota Cilegon, Kota Serang dan Kabupaten Tangerang kini sudah berada di zona oranye. Meski demikian, untuk Kota Tangerang tidak mengikuti jejak ketiga daerah itu dan kini masih berada di zona merah.

Dipaparkannya, terdapat beberapa penyebab Kota Tangerang Selatan masih berstatus zona merah. Pertama, kasus positif dan kematian akibat Covid-19 di Kota Tangerang Selatan masih tinggi. Kedua, disiplin masyarakat dalam penerapan prokesnya masih kurang. Ketiga, penerapan penegakan disiplin protokol kesehatan masih kurang.

“Keempat, fasilitas tempat tidur di rumah sakit yang tersedia baik isolasi Covid-19 maupun ICU (intensive care unit) Covid-19 masih kurang jika dibandingkan dengan jumlah kasus positif. Penyebab terakhir, 3 T (tracing, testing dan treatment) masih kurang jika dibanding kasus positif yang ada,” tuturnya. (dewa)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp