DaerahEkonomi & Bisnis
Trending

Emping Mentah Picu Inflasi di Banten, Nilai Tukar Petani Merosot

SERANG, BANTEN RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bantan mencatat Banten mengalami inflasi sebesar 0,05 persen pada periode Maret 2021. Hal itu terjadi akibat adanya kenaikan pada sejumlah komoditas barang dan jasa. Sementara di waktu yang sama, nilai tukar petani (NTP) Banten juga merosot sebesar 1,22 persen.

Kepala BPS Provinsi Banten Adhi Wiriana mengatakan, perkembangan harga berbagai komoditas pada Maret 2021 secara umum menunjukkan adanya kenaikan harga. Berdasarkan hasil pemantauan di 3 kota, terjadi inflasi gabungan sebesar 0,05 persen. Hal itu terlihat dari adanya kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 106,23 pada Februari 2021 menjadi 106,28 pada Maret 2021.

“Tingkat inflasi tahun kalender Maret 2021 sebesar 0,64 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun Maret 2021 adalah sebesar 1,39 persen,” ujarnya, Minggu (4/4/2021).

Ia menuturkan, dari pemantauan terhadap 416 jenis barang dan jasa serta hasil survei biaya hidup (SBH) 2018 di Kota Serang, Tangerang dan Cilegon, ada sebanyak 224 komoditas mengalami perubahan harga. Rinciannya, 148 komoditas mengalami kenaikan harga dan sisanya sebanyak 76 komoditas mengalami penurunan harga.

Adapun beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain bawang merah, cabai rawit, tomat, emping mentah, buah naga, kemeja panjang katun pria, ikan layang. Kemudian ada laptop atau notebook, anggur, ikan kembung serta ikan aso-aso.

“Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain cabai hijau, cabai merah, ketimun, jengkol, kacang panjang. Tarif kendaraan roda 2 online, kol putih atau kubis, kangkung, lotion anti nyamuk dan telur puyuh,” katanya. 

Diungkapkan Adhi, terdapat beberapa komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada Maret. Mereka adalah bawang merah, daging ayam ras, cabai rawit, bawang putih, upah asisten rumah tangga, tomat, anggur, emas perhiasan, pepaya dan angkutan udara.

“Sementara komoditas yang dominan menyumbang deflasi adalah komoditas cabai merah, mobil, pisang, ikan lele, pasta gigi, air kemasan. Jeruk, susu bubuk untuk balita, kangkung, dan kacang panjang,” ungkapnya.

Lebih lanjut dipaparkan Adhi, ketiga kota yang disurvei IHK di Provinsi Banten mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Cilegon sebesar 0,29 persen dengan IHK sebesar 108,02. Diikuti oleh kota Serang sebesar 0,12 persen dengan IHK sebesar 108,24 dan kota Tangerang sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 105,66.

“Secara berturut-turut Kota Tangerang, Cilegon dan Serang menempati peringkat 24, 25 dan 26 IHK terbesar untuk kota-kota di Pulau Jawa,” tuturnya.

Selain inflasi, BPS juga mencatat besaran NTP Banten pada Maret 2021 yang berada pada angka sebesar 99,69. Mengalami penurunan sebesar 1,22 persen dari bulan sebelumnya di angka 100,92. Hal ini dikarenakan turunnya indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 1,17 persen, lebih rendah dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,06 persen

“NTUP nilai tukar usaha pertanian (NTUP) Banten pada Maret 2021 sebesar 99,26 juga mengalami penurunan sebesar 1,12 persen dari bulan sebelumnya,” ujarnya

Rata-rata harga gabah di tingkat petani pada Maret 2021 mengalami penurunan untuk gabah kering giling (GKG) sebesar 6,76 persen. Dari Rp4.850 ddi februari menjadi Rp4.522 per kilogram pada Maret. Lalu untuk gabah kering panen (GKP) turun sebesar 10,36 persen dari Rp4.413 menjadi Rp3.956 per kilogram. Untuk kualitas GKG pada varietas Ciherang dan Inpari dengan harga terendah sebesar Rp4.200 dan harga tertinggi sebesar Rp4.900 dengan varietas yang sama.

“Upah nominal buruh tani pada Maret 2021 Rp66.358 per hari, naik 0,12 persen dari bulan sebelumnya senilai Rp66.279 per hari. Secara riil mengalami kenaikan sebesar 0,06 persen, yaitu dari Rp60.721 menjadi Rp60.756 per hari,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, pihaknya telah mencanangkan sejumlah program agar nilai tambah pertanian Banten meningkat. Salah satunya adalah mengupayakan agar seluruh produksi dan pengolahan padi tidak keluar Banten.

Diungkapkannya, salah satu strategi itu adalah mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Agrobisnis Banten Mandiri. Perusahaan plat merah itu diharapkan bisa melakukan kemitraan dengan para petani di Banten.  

“Kami ingin nilai lebih produksi ini ada di Banten. Jangan di sana (luar daerah-red) tapi ingin di sini. Di sini inilah yang dikatakan Pak Gubernur melalui peranan BUMD PT Agrobisnis Banten Mandiri agar mampu menangkap peluang ini,” ujarnya. (dewa)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp