DaerahEkonomi & BisnisPemprov Banten
Trending

Pandemi Covid-19 Jadi Biang Kerok, Pertumbuhan Ekonomi Banten 2020 Anjlok

SERANG, BANTEN RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten merilis pertumbuhan ekonomi Banten pada 2020 terkontraksi atau minus 3,38 persen dibanding pada 2019. Hal tersebut terjadi akibat besarnya pengaruh pandemi Covid-19.

Kepala BPS Provinsi Banten Adhi Wiriana mengatakan, pandemi Covid-19 yang terjadi sepanjang 2020 menyebabkan ekonomi Banten mengalami kontraksi atau tumbuh negatif sebesar 3,38 persen. Hal itu berbending terbalik dengan capaian di 2019 dimana ekonomi tumbuh 5,29 persen.

“Ekonomi Banten triwulan IV 2020 juga dibanding triwulan IV 2019 year on year (y-on-y) turun 3,92 persen. Akan tetapi ekonomi Banten pada triwulan IV 2020 jika dibanding triwulan III 2020 atau quartal to quartal (q-to-q) mengalami pertumbuhan sebesar 3,01 persen,” ujarnya saat menggelar konferensi pers secara virtual, Jumat (5/2/2021). 

Ia menjelaskan, sebagian besar lapangan usaha yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Banten mengalami kontraksi pertumbuhan. Berdasarkan sumber pertumbuhan ekonomi Banten 2020, sumber pertumbuhan negatif terdalam berasal dari lapangan usaha transportasi dan pergudangan sebesar negatif 1,84 persen.

“Tren yang sama diikuti industri pengolahan sebesar negatif 1,58 persen, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar negatif 0,39 persen. Selanjutnya konstruksi sebesar negatif 0,28 persen serta sumber pertumbuhan ekonomi Banten dari lapangan usaha lainnya sebesar 0,71 persen,” katanya.

Meski sejumlah lapangan usaha menunjukkan pertumbuhan minus, lanjut Adhi, akan tetapi beberapa lapangan usaha lainnya mampu tumbuh positif. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha informasi dan komunikasi sebesar 9,14 persen. Diikuti jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 7,50 persen dan pengadaan Air,

pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang sebesar 7,45 persen.

“Sehingga secara umum perekonomian Banten 2020 yang diukur berdasarkan produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp626,44 Triliun. Lalu PDRB perkapita mencapai Rp47,6 Juta atau 3.270,13 US dolar,” ungkapya.

Lebih lanjut dipaparkannya, dari sisi pengeluaran pertumbuhan ekonomi Banten 2020 tumbuh negatif sebesar 3,38 persen. Pertumbuhan negatif terjadi pada semua komponen. Pertumbuhan negatif terdalam masing-masing terjadi pada komponen total ekspor netto sebesar 22,71 persen. Pengeluaran konsumsi pemerintah (PK-P) sebesar 9,51 persen dan lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) sebesar 8,28 persen.

Demikian juga untuk komponen rumah tangga (PK-RT) yang mengalami kontraksi sebesar 2,01 persen diikuti dengan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 0,74 persen. Struktur PDRB Banten menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku 2020 tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

“Perekonomian Banten masih didominasi oleh Komponen PK-RT yang mencakup lebih dari separuh PDRB Banten yaitu sebesar 55,15 persen. Diikuti oleh komponen PMTB sebesar 34,60 persen, Komponen total net ekspor sebesar 5,42 persen, komponen PK-P sebesar 4,36 persen dan komponen PK-LNPRT sebesar 0,47 persen,” tuturnya.

Struktur perekonomian provinsi se-Jawa pada Triwulan IV 2020 masih didominasi oleh Provinsi DKI Jakarta. Ibu kota negara itu mampu memberikan kontribusi terhadap PDRB se-Jawa sebesar 30,34 persen.

“Provinsi Jawa Timur sebesar 24,68 persen, Provinsi Jawa Barat sebesar 22,28 persen. Sementara itu, Provinsi Banten memberikan kontribusi sebesar 6,82 persen,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Banten Wahidin Halim (WH) dalam beberapa kesempatan menyampaikan, proyeksi laju pertumbuhan ekonomi Banten 2021 adalah sebesar 5,2 persen. Itu sudah sejalan dengan target yang ditetapkan dalam rencana kerja pemerintah pusat yaitu di kisaran 4,5 persen hingga 5,5 persen.

Selain anggaran yang dialokasikan langsung untuk pembangunan di bidang ekonomi, infrastruktur, pendidikan dan kesehatan. Pembanguan itu diyakini akan berdampak baik secara langsung maupun tidak langsung pada peningkatan laju pertumbuhan ekonomi, pengurangan pengangguran dan pengurangan kemiskinan.

“Di samping itu pada faktor eksternal, dan harapan meredanya pandemi Covid-19, peningkatan mobilitas masyarakat dan pulihnya perekonomian,” tuturnya.

Strategi Pemprov Banten untuk pemulihan ekonomi mencapai laju pertumbuhan ekonomi, akan dilakukan secara komprehensif. Baik itu pada sektor primer melalui penyiapan kawasan pangan atau food estate. Kemudian juga peternakan, revitalisasi Balai Benih Ikan Curug Barang yang belum optimal dan revitalisasi pelabuhan perikanan.

“Patut disyukuri Banten telah memperoleh penghargaan pin emas dari Kementerian Pertanian. Penghargaan diberikan sebagai daerah dengan produksi padi terbaik sepuluh besar di tingkat nasional,” ungkapnya.

Mantan Walikota Tangerang itu menambahkan, pada sektor ekonomi sekunder, kebijakan anggaran diarahkan pada penguatan usaha kecil dan menengah, serta penguatan kemitraan dan sinergi dengan industri dan dunia usaha. Sedangkan pada sektor ekonomi tersier dukungan sungguh-sungguh diberikan pada sektor pariwisata melalui pembangunan infrastruktur menuju destinasi wisata.

“Selain itu, tahun 2021 Banten akan membangun pusat distribusi provinsi yang pendiriannya sudah dicita-citakan sejak tahun 2003 dalam bentuk pasar agrobsnis, pasar induk dan lainnya. Upaya ini akam berdampak pada stabilisasi harga bahan pokok dan strategis. Sekaligus juga memotong rantai pasok dan berdampak pada kesejahteraan petani,” tuturnya. (dewa)

 

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp