DaerahEkonomi & Bisnis
Trending

Pembangunan Infrastruktur Mulai Merata, Ada Gelombang Pabrik Pindah dari Banten

JAKARTA- Gelombang relokasi pabrik dari wilayah Banten dan Jabodetabek ke wilayah lain seperti Jawa Tengah kembali mengemuka. Alasan utamanya selain soal mengejar upah, ternyata ada alasan mulai meratanya pembangunan infrastruktur di Pulau Jawa seperti tol Trans Jawa yang sudah terkoneksi.

“Justru sudah berlangsung cukup lama dan sebagian besar umumnya mengikuti ke jalur Tol Trans Jawa. Dari Jabar ada Majalengka, Cirebon kemudian Brebes, Pekalongan, kemungkinan Batang, yang sudah ada Salatiga. Nanti yang cukup besar di Jepara serta Rembang,” kata Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakrie seperti dilansir cnbcindonesia.com, Senin (14/6/2021).

Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan industri sepatu tetap positif adalah relokasi, nilai ekspor tahun lalu bahkan mencapai 8,7 persen. Adanya relokasi membuat biaya untuk upah buruh menjadi lebih kecil. Pasalnya, wilayah baru memiliki upah minimum kabupaten/kota (UMK) yang cenderung rendah. Di sisi lain, distribusi tetap terjaga karena fasilitas memadai.

“Dengan ada tol, jarak pelabuhan lebih pendek. Selama ini pelabuhan utama masih di Tanjung Priok, jadi walau ada di pinggiran Jabar, sebenarnya akses ke Tanjung Priok dengan adanya tol masih terjangkau. Walau tetap bisa ekspor dari pelabuhan Tanjung Emas Semarang juga bisa,” kata Firman.

BACA JUGA: 121 Perusahaan di Banten Tunda Bayar Upah Buruh Sesuai Standar

Fenomena maraknya sejumlah industri pabrik pindah dari Provinsi Banten ke daerah lain kian menjadi perhatian pemangku kepentingan mengingat kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada kekhawatiran tingginya tingkat pengangguran di wilayah ini.

Anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Andi Achmad Dara menilai pemerintah daerah harus segera mengambil langkah strategis dalam menyikapi relokasi pabrik dari Banten. Bila dibiarkan maka ini akan menjadi kerugian bagi wilayah Banten.

“Saya sebagai wakil rakyat dari Banten juga ingin mengajak pemda memikirkan bagaimana agar industri ini tidak pindah, saya kira perlu kita klasterisasi supaya mereka punya pemukiman yang baik, pekerjanya punya fasilitas kesehatan yang baik, bahkan fasilitas pendidikannya juga,” kata Andi, dikutip Senin ini (14/6/2021).

Saksikan Podcast Meja Redaksi di Banten Raya Channel

“Karena pada akhirnya kita juga harus berkompetisi, pemda harus aware, segera mengambil langkah, kira-kira apa yang bisa membuat mereka tidak pindah. Misalnya memberikan semacam insentif oleh pemda dan pemerintah pusat, supaya tidak terjadi semacam kanibalisasi dari suatu daerah pindah ke daerah lain,” katanya.

Fenomena relokasi pabrik dari Banten, sempat mencuat pada 2019, terutama dari industri alas kaki. Saat itu ada 25 pabrik yang relokasi ke Jateng dan wilayah lainnya per Juni 2019. Firman memang mengakui satu pabrik alas kaki bisa mencapai puluhan ribu orang, bahkan ada yang sampai 50 ribu orang. (cbc)

Related Articles

Back to top button