DaerahEkonomi & Bisnis
Trending

Status Pengawasan Khusus Dicabut, Bank Banten Klaim Tak Ada Rush Money Jilid II

SERANG, BANTEN RAYA- Pengurus Bank Banten mengklaim tidak ada aksi penarikan uang besar-besaran atau rush money jilid II pasca dicabutnya status bank dalam pengawasan khusus (BPDK). Hal tersebut dibuktikan dengan lebih banyaknya uang masuk dibanding keluar, pasca kebijakan yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tersebut.

Seperti diketahui, aksi rush money sempat terjadi kepada Bank Banten pada pertengahan 2020 lalu. Tepatnya pasca Pemprov Banten menutup rekening umum kas daerah (RKUD) di bank plat merah tersebut, dan memindahkannya ke Bank Jabar Banten (BJB). Para nasabah ramai-ramai menarik uangnya dengan memenuhi seluruh fasilitas anjungan tunai mandiri (ATM) dan kantor-kantor Bank Banten.

Akibatnya, banyak ATM Bank Banten yang tidak bisa difungsikan untuk menarik uang tunai. Bahkan, manajemen bank memberlakukan pembatasan transaksi uang keluar bagi nasabahnya di kantor-kantor cabang.

Direktur Bisnis Bank Banten Cendria Tj Tasdik mengatakan, potensi terjadi rush money jilid II pasca dicabutnya status BDPK Bank Banten oleh OJK telah disampaikan oleh banyak pihak. Meski demikian, hal itu nyatanya tidak pernah terjadi sampai kemarin.

“Secara faktual sejak 7 Mei dicabutnya BDPK oleh OJK tidak terjadi apapun. Dalam kaitan penarikan besar-besaran atau rush,” ujarnya usai menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan dan luar biasa Bank Banten, di Hotel Horison Ultima Ratu, Kota Serang, Kamis (20/5/2021).

Cendria menuturkan, tidak terjadinya rush money dapat terlihat dari lebih banyaknya uang masuk dibanding uang keluar. Hal itu menunjukkan sentimen positif dari para nasabah terhadap pencabutan status BDPK.

“Kita lihat jumlah tabungan semakin meningkat, ini menunjukan sentimen positif dari nasabah. Mereka memberikan sebuah respons positif bahwa mereka tidak perlu khawatir menyimpan dananya di Bank Banten,” katanya.

Cendria mengungkapkan, adapun rush money yang terjadi pada tahun lalu lebih disebabkan adanya sebagian deposan yang mengambil simpanannya di Bank Banten. Hal itu seiring dengan penutupan RKUD yang dilakukan oleh Pemprov Banten.

“Kalau kita balik kembali, besok lusa bahwa Pak Gubernur akan kembali merealisasikan RKUD ke Bank Banten. Tentunya ini akan berdampak semakin luas meningkat kepada kepercayaan dari para deposan,” ungkapnya.

Ia meminta para nasabah maupun deposan agar tidak khawatir untuk menyimpan uangnya di Bank Banten.

“Kesehatan Bank Banten akan sangat bergantung kepada tingkat kepercayaan nasabahnya. Pulihnya tingkat kepercayaan ini dengan pencabutan (status BDPK) OJK merupakan kontribusi tetap setianya nasabah kita di Bank Banten,” tuturnya.

Direktur Operasional dan Transformasi Bank Banten Denny Sorimulia Karim memastikan, dengan dicabutnya status BDPK maka operasional Bank Banten kini sudah kembali normal. Baik transaksi yang dilakukan pada ATM prima maupun ATM bersama.

BACA JUGA: ASN Pemprov Banten Ramai-ramai Aktivasi Ulang Rekening Bank Banten

Operasional normal juga, kata dia, sudah diterapkan pada transaksi di kantor cabang. Meski demikian, dia tak menampik jika dalam aktivitas transaksi masih ada beberapa hal yang dilakukan pembatasan.

“Saat ini yang dibatasi adalah nilai transaksi per transaksinya. Ini bentuk kehati-hatian dan kenyamanan nasabah. Bahwa Bank Banten untuk menjalankan program transformasi dan penyehatannya kembali itu didukung prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang dikendalikan oleh manajemen dan tim terkait. Bahwa rush money yang dikhawatirkan tidak terulang kembali,” ujarnya. (dewa)

Related Articles

Back to top button