DaerahHukum & Kriminal

Ada 43 Kasus Kekerasan Seksual di Serang Sepanjang 2020, Dominan Pencabulan Anak

SERANG, BANTEN RAYA- Kekerasan seksual pada anak di bawah umur di wilayah hukum Polres Serang tergolong cukup tinggi. Berdasarkan catatan kepolisian hingga akhir 2020, terdapat 43 kasus kekerasan seksual pada anak dan perempuan.

Kasat Reskrim Polres Serang AKP Arief Nazarudin mengatakan, kasus pencabulan, pemerkosaan, KDRT dan perlindungan anak menjadi kasus paling menonjol sepanjang 2020. Jumlah kasus yang ditangani Unit PPA sebanyak 43 kasus dengan hasil capaian pengungkapan sebanyak 29 kasus.

“Paling dominan dan paling menonjol pencabulan terhadap anak di bawah umur. Kita berhasil mengamankan tersangka sebanyak 43 orang,” katanya kepada Banten Raya, kemarin.

Arief menambahkan, kasus kekerasan anak yang terbaru yaitu oknum guru ngaji yang melakukan pencabulan terhadap 5 orang muridnya. Diduga masih ada korban lainnya dalam kasus asusila tersebut. “Dari pengakuannya, dua orang disetubuhi dan tiga korban hanya dicabuli. Kita masih kembangkan hingga saat ini,” tambahnya.

Arief menjelaskan, kasus yang sempat menonjol yakni kasus dua orang siswi SMP jadi korban pemerkosaan oleh 7 orang pemuda mabuk pada Agustus 2020. Dari 7 pelaku, polisi berhasil mengamankan 5 pelaku di rumahnya masing-masing.

“Pelaku semua ini dalam kondisi mabuk, kemudian dia merasa tertarik dengan dua korban yang masih umur 14 tahun untuk diperkosa bersama-sama,” tambahnya.

Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Banten Hendry Gunawan membenarkan jika kasus kekerasan anak di bawah umur untuk wilayah Kabupaten Serang cukup tinggi. Dalam catatanya telah terjadi 26 kasus kekerasan anak.

“Dalam catatan kami, tertinggi di Kabupaten Serang 26 kasus, kemudian Kota Serang 18 kasus, Kota Tangsel 16 kasus, Kabupaten Pandeglang 2 kasus, ” katanya.

Menurut Gunawan, untuk seluruh wilayah Provinsi Banten pihaknya mencatat ada sekitar 69 kasus yang melibatkan anak di bawah umur. Dari jumlah itu, kasus pencabulan merupakan kasus tertinggi daripada kasus lainnya seperti kekerasan fisik, narkoba dan bullying. “Pencabulan itu ada 35 kasus, dan persetubuhan ada 14 kasus di tahun 2020 lalu,” ujarnya.

Hendri menambahkan, kasus kekerasan anak yang terjadi banyak melibatkan orang-orang terdekat. Melihat hal itu, LPA mendesak pemerintah membentuk LPKSA (Lembaga Penyelenggara Kesejahteraan Sosial Anak) atau Pusat Terpadu Rehabilitasi Anak.

“Penanganan kasus tahun 2020 cukup mengkhawatirkan karena para pelaku adalah orang-orang terdekat korban,” jelasnya. (darjat/rahmat)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp
%d blogger menyukai ini: