Hukum & Kriminal
Trending

Alamaaak..1.400 Hoax Covid-19 Bertebaran di Medsos, Ini Contoh Konten yang Paling Parah

SERANG, BANTEN RAYA- Sejak awal virus korona masuk ke Indonesia hingga Januari 2021, setidaknya ada 1.402 berita bohong atau hoax terkait berita Covid-19. Informasi itu bertebaran di media sosial, seperti Facebook, Instagram dan twitter. Hal itu diungkapkan Kasi Promkes dan PM pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten Donny Budi Utoyo dalam forum grup discusion (FGD) bertema peranan media dalam masa pandemi Covid-19, yang digelar di aula kantor Dinkes Banten, Rabu (24/2).

“Media sosial merupakan sarangnya hoax, meski banyak juga kebenarannya. Hingga Januari 2021, ada sekitar 1.400 hoax lokal berbahasa Indonesia,” katanya saat mengisi materi.

Donny menjelaskan, hoax yang bertebaran ada bermacam-macam. Mulai dari obat Covid-19, pemakaman korban covid, hingga informasi adanya bisnis, dan covid merupakan rekayasa.

“Yang terbaru pernyataannya soal pemakaman untuk korban Covid-19 hanya proyek oleh anggota DPRD Bantul yang kemudian digeruduk oleh relawan yang melakukan pemakaman,” jelasnya.

Selain virus korona, Donny mengungkapkan, awal tahun 2021 ini saat pemerintah tengah gencar menyosialisasikan program vaksinasi massal, ada puluhan informasi bohong terkait vaksinasi. Hal ini sangat memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat.

“Di Januari 2021 ada sekitar 95 berita hoax khusus tentang vaksin. Mulai dari haram, berbahaya dan lain sebagainya. Secara keseluruhan hoax korona dan vaksin, jika di kalkulasikan ada 5 hoax diproduksi setiap harinya,” ungkapnya.

Untuk itu, Donny mengungkapkan untuk memerangi hal itu jurnalis maupun intansi pemerintah atau pemegang kebijakan harus cepat tanggap, dalam menyampaikan informasi. Sehingga berita bohong tidak terus berkembang dan semakin meluas.

Hal yang paling berat yaitu mencari faktanya, misalnya hoax kebijakan pemerintah. Kita udah tau ini gak benar, tapi kita harus tanya otoritasnya dulu, ini mau dikutip atau enggak, bisa sejam, dua jam (mengklarifikasi). Sementara info hoax terus tersebar,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan saat ini pihaknya tengah dipusingkan dengan minimnya ketersedian vaksin. Pada tahap dua ini hanya 28.800 dosis. Namun, kebutuhan vaksinasi tahap dua di Banten yakni sebanyak 1,5 juta dosis.

“Karena dari vaksin dari 1.5 juta yang kita butuhkan pada tahap dua ini, kemarin itu baru datang 28.800, jauh sekali. Sedangkan pemberitaannya bahwa ini untuk pelayan publik, ini untuk tokoh agama, tokoh masyarakat, ini untuk pedagang pasar, dan ini baru 28 ribu, stres kita. Terutama di kabupaten/kota, itu bagaimana sedangkan antusias sudah luar biasa untuk vaksinasi,” katanya.

Ati menambahkan, banyak masyarakat yang menginginkan divaksinasi. Namun penggunaan vaksin yang diberikan kepada daerah sudah ditentukan oleh pemerintah pusat. Setiap satu vaksin yang dikeluarkan harus dipertanggungjawabkan.

“Setiap malam mendapatkan caci maki, sudah hal biasa. Bahkan, gubernur sendiri untuk vaksinasi enggak bisa intervensi. Karena memang khusus vaksin ini, top down dari pusat, setiap vaksin yang dikeluarkan harus dipertanggungjawabkan dan terdata dalam pusat data terpadu nasional,” tambahnya.

Ati mengungkapkan, musim pancaroba kali ini virus korona bukan menjadi hal yang ditakutkan. Sebab ada penyakit lain yang justru lebih banyak makan korban jiwa dibandingkan virus korona.

“Sesungguhnya angka kematian demam berdarah (DBD) jauh lebih tinggi dibandingkan angka kematian covid, ini benar benar harus terantisipasi. Maka antisipasi yang kami lakukan membuat edaran kepada para tenaga promosi kesehatan, para tenaga kesehatan di lingkungan puskemas harus udah melakukan menjaga kesehatan lingkungan,” ungkapnya.

Ati menambahkan, penyakit demam berdarah mengintai daerah-daerah yang terkena dampak banjir, seperti di Tangerang Raya. Untuk itu dinkes memberikan perhatian khusus ke wilayah tersebut.

“Untuk daerah yang mengalami dampak banjir seperti Tangerang Raya. Untuk Kota Tangerang kita membuka posko sekitar 23 posko ditambah posko utama di puskemas 24 jam,” tambahnya.

Namun hal yang ditakuti selain demam berdarah, penyebaran virus korona juga dikhawatirkan semakin meluas di Tangerang Raya. Sebab dipastikan akan terjadi kerumunan massa di posko-posko.

“Di setiap penampungan orang yang terdampak banjir, kita datangi untuk dilakukan swab antigen, jadi jangan sampai berkumpul di sana ternyata di dalam sana dia terkena covid. Jadi kita pilah mereka, kalau yang positif covid tempat penampungan dipisahkan,” tegasnya. (darjat/rahmat)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp