DaerahHukum & Kriminal

Kejati Banten Garap 40 Kejahatan Siber Anak, Kasusnya Berupa Perundungan dan Asusila di Medsos

SERANG, BANTEN RAYA – Kasus kejahatan siber yang menjerat anak cukup banyak di Provinsi Banten. Dari Januari hingga Desember 2020, Kejaksaan Tinggi Banten mencatat kejahatan siber mencapai 40 kasus. 

Asisten Tindak Pidana Umum (Aspidum) Kejati Banten Yudi Hendarto mengatakan, kasus kejahatan siber banyak yang dijerat dalam tindak pidana umum lain atau kejahatan informasi dan transaksi elektronik (ITE). Mayoritas kasusnya adalah yaitu perundungan bullying dan kejahatan asusila.

“Tidak sebanyak tahun 2019. Untuk kasusnya bullying atau menjelek-jelekan dengan kejahatan pornografi (penyebaran video dan foto). Perkara ITE ini paling banyak di Tangerang,” ujarnya.

Yudi menambahkan, pelaku kejahatan siber ini banyak memanfaatkan media sosial. Apalagi selama pandemi korona, anak-anak jadi lebih leluasa mengakses internet. Selain untuk kebutuhan sekolah online, juga digunakan untuk aktivitas medsos. “Banyak dilakukan oleh anak-anak muda di Banten dengan menggunakan Facebook dalam melakukan kejahatan ITE,” tambahnya.

Kajati Banten Asep Nana Mulyana mengajak masyarakat bijak menggunakan media sosial. “Saat ini media sosial secara luas digunakan oleh masyarakat, dan penggunaan media sosial tidak memiliki ruang batas, pengguna dapat secara bebas memanfaatkannya. Kerena memang penggunaan medsos yang masif. Gunakan medsos secara bijak, jangan asal mengetik karena akan konsekuensi hukumnya,” katanya.

Selain kejahatan pidana umum, Asep menambahkan, Kejati Banten di tahun 2020 ini juga menangani beberapa perkara korupsi yaitu kasus studi kelayakan atau feasibility study (FS) yang diduga fiktif untuk pengadaan lahan unit sekolah baru (USB) SMA/SMK di Banten tahun 2018, kasus kredit fiktif BJB Cabang Tangerang, kasus BJB Syariah, kasus genset jilid 2, kasus pendirian Bank Banten, kasus internet desa, kasus sport center, dan Jalan Lingkar Selatan. “Semuanya ada 13 perkara korupsi yang naik ke penyidikan,” katanya.

Pada kesempatan itu, Asep menambahkan pada 2020 ini Kejati berhasil menyelamatkan keuangan negara Rp 326 miliar dalam beberapa perkara perdata dan tata usaha (Datun). “Berkaitan dengan BUMN, Pelindo Rp324 miliar (perkara perdata). Kemudian menagih pihak ketiga dari Sucofindo sebesar Rp900 juta lebih dan ganti rugi PLN Rp1,175 miliar (jaringan listrik yang putus akibat crane),” jelasnya. (darjat)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp
%d blogger menyukai ini: