DaerahHukum & Kriminal
Trending

Polda Banten Bongkar Kasus Pemalsuan Girik Lahan

Pelaku Beraksi Berkelompok, Libatkan Satpam dan Mantan Honorer KPP Serang

SERANG, BANTEN RAYA- Subdit II Harta Benda (Harda) Ditreskrimum Polda Banten berhasil membongkar kasus sekaligus menangkap empat orang pelaku pembuatan girik atau surat kuasa lahan palsu. Komplotan ini melibatkan oknum petugas keamanan (satpam) dan honorer di Kantor Pajak Pratama (KPP) Serang, serta honorer kecamatan.

Dirkrimum Polda Banten Kombes Pol Martri Sonny mengatakan, dalam pengungkapan kasus ini, pihaknya telah menetapkan empat orang tersangka yaitu MRH (55) honorer KPP Serang selaku penyedia blanko girik, CS (38) petugas keamanan KPP Serang selaku penerima uang pembuatan girik, AH (46) selaku penerima uang jasa pembuatan girik, dan SA (55) honorer kecamatan selaku orang yang meminta uang untuk biaya pembuatan girik.

“Sekitar Februari 2021 ada yang datang kepada kami melaporkan dugaan pemalsuan girik. Kemudian kami langsung melakukan penyelidikan, dan berhasil membongkar kasusnya,” kata Martri didampingi Kasubdit II Harda Ditkrimum Polda Banten AKBP Dedi Darmawansyah, saat diwawancara di Mapolda Banten, Kamis (25/3/2021).

Martri mengungkapkan, korban awalnya meminta pertolongan kepada salah satu pelaku agar dibuatkan girik, dan koran diminta membayar administrasi sebesar Rp12 juta. Namun setelah girik tersebut jadi dan dicek ke kantor desa, ternyata girik tersebut palsu.

“Bahan atau blanko girik yang mereka buat asli. Mereka dapat dari gudang KPP Serang yang saat itu tengah direnovasi. Namun, mereka memalsukan stempel dan nama pemiliknya,” ujarnya.

Martri mengungkapkan, dalam penangkapan dan penggeledahan di rumah para tersangka, kepolisian menemukan ratusan dokumen terkait tanah, bahkan ada 57 girik palsu yang sudah siap didistribusikan kepada pemesan.

“Berkasnya (56 girik palsu) sudah atas nama semua. Serta ratusan blanko kosong girik, ratusan blanko c desa, buku daftar nama wajib pajak di 83 desa se-Banten, stempel palsu desa berbagai tahun dari berbagai daerah, mesin ketik peta tanah, hingga pulpen,” ungkapnya.

Martri menegaskan, cara bekerja komplotan pembuatan girik aspal ini tergolong rapi. Bahkan komplotan itu memiliki contoh-contoh tanda tangan pejabat pada masanya. Sehingga sulit untuk dibedakan antara girik asli dengan girik buatan pelaku.

“Satu cara untuk mengetahui ini asli atau palsu, datang ke kantor kelurahan atau desa, tercatat atau tidak girik tersebut. Girik palsu yang kita temukan ada girik tanah di Cilegon, Serang dan Jakarta,” tegasnya.

Martri mengungkapkan, hingga saat ini penyidik masih melakukan penyelidikan, dan akan melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN), untuk mengecek apakah dokumen girik buatan komplotan tersebut telah berubah menjadi sertifikat tanah.

“Kita masih lakukan pengembangan. Tersangka akan dijerat dengan pasal 263 ayat (1) dan pasal 378 KUHP. Kemungkinan masih ada tersangka lainnya,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu pelaku MRS mengaku telah melakukan kegiatan pemalsuan girik tersebut sejak tahun 2008. Setiap satu produk yang dibuat, MRS dan komplotannya menerima uang atau imbalan hingga belasan juta rupiah. “Jutaan (per orang), sudah lama dari tahun 2008,” katanya singkat, seraya enggan menjawab pertanyaan awak media. (darjat/rahmat)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp