Hukum & KriminalNasional
Trending

Soal Keberadaan Harun Masiku, Ketua KPK Beri Jawaban Begini

JAKARTA- Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri angkat bicara terkait dugaan keberadaan daftar pencarian orang (DPO) Harun Masiku. Mantan calon legislatif (Caleg) PDI Perjuangan itu telah lebih dari satu tahun menjadi buronan KPK.

Tim penyelidik KPK Harun Al Rasyid menyatakan mengetahui keberadaan Harun Masiku. Tesangka penyuap mantan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan itu disebut berada di Indonesia.

“KPK bekerja dengan sistem, mekanisme dan prosedur baku sesuai ketentuan. Setiap perkara dikerjakan oleh tim yang bukan satu orang, tim bekerja sesuai ketentuan dan prosedur. Sukses KPK adalah kerja tim bukan individu,” kata Firli dilansir jawapos.com, Minggu (30/5/2021).

Pernyataan ini menanggapi tim penyelidik KPK Harun Al Rasyid yang mengetahui keberadaan Harun Masiku. Harun Al Rasyid merupakan salah satu pegawai KPK yang dinyatakan tidak memenuhi syarat tes wawasan kebangsaan (TWK).

“Ada (di Indonesia), sinyal itu ada,” sebagaimana pernyataan Harun Al Rasyid.

Harun Al Rasyid menyatakan, pihaknya belum bisa menangkap DPO Harun Masiku. Karena saat ini dirinya dibebastugaskan, dengan dalih tidak memenuhi syarat tes wawasan kebangsaan (TWK) alih status pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Tapi karena saya kan sudah disuruh menyarahkan tugas dan tanggung jawab, jadi saya tidak bisa ngelaporin,” tukas Harun Al Rasyid.

Sebagaimana diketahui, tersangka Harun Masiku sudah 16 bulan menjadi DPO KPK. Harun yang merupakan mantan Caleg PDI Perjuangan ini ditetapkan sebagai tersangka bersama mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan, Agustiani Tio Fridelina selaku mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu sekaligus orang kepercayaan Wahyu, dan Saeful Bahri.

KPK menduga Wahyu bersama Agustiani Tio Fridelina diduga menerima suap dari Harun dan Saeful. Suap dengan total Rp900 juta itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun Masiku dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR RI menggantikan caleg terpilih dari PDIP Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia pada Maret 2019 lalu.

Wahyu dan Agustiani telah divonis dalam kasus ini. Mantan komisioner KPU itu divonis enam tahun penjara, sedangkan Agustiani Tio divonis empat tahun penjara. Sementara itu, Saeful Bahri telah divonis satu tahun dan delapan penjara.

Saeful Bahri terbukti bersama-sama Harun Masiku menyuap Wahyu Setiawan melalui mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina. Ketiganya telah dijebloskan ke Lapas untuk menjalankan hukuman pidana. (jpc)

Related Articles

Back to top button