Pendidikan

Ajaran Tarekat Warnai Perjuangan Banten Lawan Belanda

SERANG, BANTEN RAYA-Dalam pandangan masyarakat awam, tarekat seringkali digambarkan sebagai prilaku keagamaan yang tidak biasa. Tarekat seperti menempatkan agama (Islam) tidak hanya seperangkat aturan yang menuntun prilaku keseharian penganutnya, ia menuntut penghayatan lebih dalam lagi dari ajaran-ajaran agama. Hal tersbeut terungkap dalam diskusi daring yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banten (DPK) Banten.

Menurut Ajid Thohir salah seorang pembicara, pengaruh tarekat di Indonesia tidak bisa dibantah, berbagai aliran tarekat tumbuh subur di nusantara sejak masa awal penyebaran Islam dan berkembang hingga saat ini. “Banten sejak kelahirannya telah meletakkan sistem pemerintah yang memiliki ciri-ciri sufistik,” kata Ajid, kemarin.

Akademisi UIN Bandung ini menjelaskan, setidaknya ada empat ciri sufistik yang melekat pada Kesultanan Banten, pertama penunjukan Syarif Hidayatullah kepada Maulana Hasanudin memiliki isyarat-isyarat spiritual, lalu sultan sebagai Pandita Ratu yang harus memiliki kemampuan syari’ah dan ruhaniyah, kemudian gelar-gelar sultan menunjukan nilai-nilai ruhaniyah dan terakhir budaya ziarah ke makam sultan menunjukan pengikatan diri pada pola keagamaan sufistik.

Pengaruh tarekat kemudian berkembangan di Banten, lanjutnya, sejalan dengan perkembangan penyebaran agama Islam. Tarekat tidak hanya berpengaruh kepada prilaku keagamaan, akan tetapi juga mempengaruhi kehidupan sosial lainnya. “Bahkan pada masa kolonial, guru-guru tarekat merupakan pemimpin gerakan untuk menentang Belanda,” ungkapnya.

Ajid yang juga menjabat Wakil Direktur Program Pasca Sarjana UIN Bandung ini mencontohkan, seperti KH. Wasid, KH. Asnawi, Haji TB. Ismail dan tokoh ulama Banten lainnya. Dalam sejarah perlawanan di Banten terdapat beberapa peristiwa besar perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda, seperti Pemberontakan 1888 dan Pemberontakan 1926.

“Kedua peristiwa besar tersebut digerakan oleh para ulama tarekat, hanya saja kemudian Sartono Kartodirjo menyebutnya sebagai pemberontakan petani dan MC. Williams menyebutnya pemberontakan komunis 1926, padahal gerakan perlawanan itu dipimpin oleh para ulama,” ujar Ajid Thohir.

Lebih lanjut menurut akademisi yang lahir di Ciruas-Serang ini, kondisi ini dipengaruhi oleh kebijakan kolonial yang menekan hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Sehingga jika mengikuti pendapat sejarawan H.J. Benda, satu-satunya tempat pelarian bagi rakyat adalah guru-guru spiritual yang tidak saja memberikan ketenangan batin, tetapi juga mampu menciptakan solidaritas bersama.

Dalam penutup diskusi yang pandu Ilham Aulia dari laborotorium Banten ini, Ajid Thohir mengajak untuk tetap menjaga tradisi lama yang baik, walapun dengan spirit baru. “Perubahan global telah membuat dinamika dalam masyarakat. Realitas keagaam baru yang bersentuhan dengan tradisi lama merupakan proses dialog yang lumrah dalam perkembangan kehidupan manusia,” imbuhnya. (satibi)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp
%d blogger menyukai ini: