Info UnbajaPendidikan
Trending

BEM Unbaja Ajak Mahasiswa Tolak Radikalisme

SERANG, BANTEN RAYA-Dalam rangka mencegah mahasiswa terpapar paham radikalisme, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Banten Jaya (Unbaja) menggelar Dialog Kebangsaan secara hybrid.

Kepada Banten Raya, Nibras, Presiden Mahasiswa Unbaja menyampaikan bahwa kegiatan ini salah satu upaya BEM Unbaja, untuk melakukan pencegahan terhadap mahasiswa dan remaja agar tidak terpapar paham radikalisme.

Menurutnya, ide kegiatan ini berawal dari sejumlah aksi teror yang terjadi di tanah air, dimana sebagian pelakunya dari kalangan remaja. Oleh karena itu, BEM Unbaja yang mendapatkan dukungan dari lembaga menggelar kegiatan ini.

“Ini salah satu upaya kami untuk melakukan pencegahan kepada mahasiswa dan remaja di Banten, agar tidak terpapar paham radikalisme,” katanya.

Ia berharap melalui kegiatan ini mahasiswa Unbaja tidak mudah terpapar paham radikalisme, dan mahasiswa Unbaja mampu berkontribusi dalam menjaga kondusifitas bangsa, dan membantu pemerintah dalam pembangunan.

Sementara itu, Didi Sohidi Tohir, salah seorang pembicara dalam kegiatan tersebut menyampaikan, dalam kamus besar bahasa Indonesia teror adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik dan terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik); praktik tindakan teror.

“Perkembangan peristiwa dari aksi terorisme yang terjadi baru-baru ini ternyata pelakunya adalah individu yang berusia muda,” katanya.

Berdasarkan Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto, lanjutnya, media sosial disinyalir telah menjadi inkubator radikalisme, khususnya bagi generasi muda. Rentang kendali biasanya 17-24 tahun, ini yang menjadi target utama, selebihnya diatas itu second liner.

Sehabudin, Kepala Bidang Media Hukum Dan Humas Forum Koordinasi Penanggulangan Terosis (FKPT) Provinsi Banten mengatakan, indeks potensi radikalisme pada generasi Z mencapai 12.7%; kemudian pada milenial mencapai 12.4% dan pada gen X mencapai 11.7%.

“Artinya indeks potensi radikalisme lebih tinggi pada generasi muda (gen Z dan milenial) dibanding generasi yang lebih tua,” ujarnya.

Indeks potensi radikalisme pada mereka yang mencari konten keagamaan di internet mencapai 12.6%, sedangkan indeks potensi radikalisme pada mereka yang tidak mencari konten keagamaan di internet mencapai 10.8%. (satibi)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp