Pendidikan
Trending

Seminar Sejarah Banten, Dindikbud Banten Sosialisasi Pembelajaran Sejarah Berbasis Budaya Lokal

SERANG, BANTEN RAYA-Pembelajaran sejarah berbasis budaya lokal adalah Pembelajaran yang menghadirkan unsur budaya lokal dalam kehidupan peserta didik, keluarga dan lingkungan tempat tinggal merupakan sumber belajar peserta didik. Hal tersebut disampaikan Erwin Supriatna, Wakil Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Banten saat menjadi pembicara dalam Seminar Sejarah Banten yang digelar Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten.

Menurutnya, doktrin pembelajaran sejarah berbasis budaya lokal mengajarkan kepada peserta didik bahwa sejarah dekat dengan kita. Nilai dan unsur budaya dituangkan dalam perencanaan pembelajaran.
Ia menjelaskan, strategi pembelajaran sejarah berbasis budaya lokal diantaranya adalah; guru melakukan pemilihan kompetensi dasar. membuat ringkasan materi, melakukan inventarisasi budaya Banten dan referensi untuk peserta didik.

Dalam pelaksanaannya, lanjut Guru sejarah MAN Insan Cendekia Serpong ini, guru menjelaskan secara umum tentang materi pembelajaran, kemudian melakukan pendampingan kepada peserta didik peserta didik dan terakhir adalah memberikan penjelasan secara teknis tentang materi pelajaran.

“Guru juga memberikan tugas keterampilan kepada peserta didik. Selain itu guru juga harus mengadakan evaluasi dalam memberikan nilai kualitatif dan kuantitatif, memberikan apresiasi terhadap tugas peserta didik dan evaluasi ketercapaian kompetensi dasar tersebut,” kata Erwin, Kamis (18/2).

Di lokasi yang sama, Yadi Ahyadi, salah seorang budayawan Banten yang juga menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa budaya merupakan produk pemikiran manusia yang terkait dengan tata cara kehidupan masyarakat pada saat tertentu, tata cara peribadatan, system nilai yang dianut, kebiasaan dan tradisi yang di jalankan, dan lain lain. Definisi mengenai budaya ini memang sangat banyak sehingga ada kesan terkadang pengertian dalam tataran konsep seolah–olah berbeda dengan pengertian dalam tataran praktis karena begitu banyaknya dialektika yang terjadi.

“Kebudayan adalah keseluruhan pengetahuan yang dimiliki manusia selaku makhluk sosial atau pedoman bagi kehidupan manusia yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat tertentu. Isinya perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan yang dihadapi serta mendorong dan menciptakan tindakan-tindakan yang diperlukan masyarakatnya sendiri (Koentjaraningrat, 2002, 181),” katanya.

Wujud kebudayaan, lanjutnya, sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. Wujud pertama ini ini adalah wujud ideal dari kebudayaan. Sifatnya abstrak, tak dapat diraba dan difoto. Wujud ini bertempat di dalam alam pikiran warga masyarakat di mana kebudayaan bersangkutan hidup. Ketika gagasan itu tertuang dalam bentuk tulisan, maka tempatnya berubah, mereka dapat ditemukan dalam suatu karya atau karangan dari para penulis yang berasal dari masyarakat yang bersangkutan. Ide-ide dan gagasan-gagasan yang tertuang dalam karya-karya tersebut telah menjadi jiwa dalam suatu masyarakat, yang menjadi arah dan pegangan bagi kebijakan dan norma perilaku dari masyarakat yang bersangkutan.

“Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud kedua ini disebut juga sistem sosial mengenai tindakan berpola dari manusia. Sistem sosial ini terdiri dari berbagai aktivitas atau tindakan manusia yang berinteraksi dengan manusia lain dalam masyarakat, yang berlangsung terus menerus dari waktu ke waktu, dengan memperlihatkan pola-pola kesamaan tertentu. Berbeda dengan wujud kebudayaan yang pertama di atas, wujud kedua dari kebudayaan ini lebih konkret, karena manusia bisa mengalaminya dan ia bisa diamati, difoto dan didokumentasikan,” imbuhnya. (satibi)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp